Sesekali boleh lah ya menulis hal yang berbeda. Setiap hari aku sangat sering menulis laporan, membuat cerita fiksi ataupun pengalaman menarik dan mengesankan buat aku, mungkin boleh ya aku sesekali menuliskan tentang diriku. Tentang Diriku? Ya, semacam menulis tentang apa yang di rasakan dan di pikirkan akhir akhir ini. Meskipun sebenarnya tidak ada yang tahu ada apa dengan aku, dan memang aku berharap seperti itu.

Ya memang aku hidup di dua alam yang berbeda. Alam nyata dan Alam maya. Alam nyata, dimana aku berjibaku dengan kehidupan nyata saat ini. Dimana aku terlibat dalam segala keras dan peluhnya kehidupan di dunia ini. Sedangkan di dunia maya, dunia bebas, dunia internet, social media dan semacamnya.

Di dunia nyata, aku sekarang menjadi seorang yang selalu terlihat ceria, tidak ada masalah, tidak pernah merasakan galau (?), senang bercengkarama dengan siapapun dan banyak lagi. Jujur, itu sebenarnya bukan aku banget, tapi aku sudah biasa menikmatinya.

Di dunia maya, aku menjadi seorang yang humoris, senang menulis hal hal yang terkadang konyol, bahkan sering membagikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang orang banyak (khususnya tentang masa depan, lebih khusus lagi jodoh). Selain itu, aku menjadi seorang yang jarang muncul, dan kalau muncul selalu penuh dengan tanda tanya. Jujur, ini sebenarnya bukan aku banget tapi aku sudah biasa menikmatinya, juga.

Adakah kesamaan dari dua hal diatas? 

Sebenarnya, aku sekarnag menjadi seorang yang penuh dengan pencitraan. Wait, tahan dulu, pencitraan yng aku maksud di sini adalah, tidak pernah ada yang tau aku kenapa dan hanya aku dan Allah yang tau aku kenapa dan mengapa.

Kadang baik di dunia nyata maupun di dunia maya (lebih sering di dunia maya), aku melakukan dua hal yang bertolak belakang. Contoh, Update lagu yang melankolis dengan caption yang bahagia atau contoh di dunia nyata adalah aku bertemu orang orang dengan muka ceria padahal lagi sakit demam.

Tak ayal sebagian dari mereka menerka nerka, dari segala hal yang tak lakuin seperti itu

"Jan, lo galauan melulu sih perasaan"
"Yaelah zan galau mulu kamu"
"Mbok kamu ceria sedikit toh, muka kok melas mulu"
"Cari Pacar geh sana biar bisa lebih ceria"

Dan di sana aku hanya bisa tersenyum dan tertawa. Bukan tersenyum karena berusaha mencitrakan diriku bahwa aku tegar namun berasa tersinggung di dalam hati, tapi aku tersenyum karena bersyukur masih belum ada yang tau aku mengapa dan lebih spesifikasinya lagi, ada apa yang terjadi di dalam diriku

Aku masih manusia biasa, yang penuh dengan lika liku kehidupan. Yang masih punya rasa senang, sedih, kecewa, sedih, galau dan lain lain. Namun aku senang jika tidak ada orang yang tau aku mengapa, setidaknya sampai saat ini.

Kalau bicara tentang akademis dan kesibukan, masih saja banyak orang yang bilang aku sibuk ini, sibuk itu. Padahal kerjaku, ya cuma di lab. Ngopi, ngeteh, nyemil, main laptop, main PS dan banyak lagi. Ya memang pencitraannya mungkin bikin aku terlihat kayak sibuk kali ya.

Kalau bicara soal cinta, aku sama sekali ngga sedang merasakan kecewa, patah hati, galau maksimal yang bikin showeran, shampoan atau sampai nangis. Dan herannya banyak orang yang mengira gitu, yaudah nggak apa apa sih. Bahkan ada yang bertanya," kamu ngga lagi jatuh cinta atau lagi pengen pacara sama siapa gitu?"

Ngakak ada yang nanya kayak gitu....

Begini, kalo namanya menyukai wanita atau apalah itu mesti ada, naluri setiap laki laki normal dan tulen itu menyukai lawan jenisnya. Nah, tapi aku masih dalam kategori menyukai dalam kategori nggak banyak berharap. Bukannya kenapa kenapa, cuma emang ngga mau naroh banyak harapan dulu ke dia dan lebih senang dengan keadaan yang kayak gini. Dan emang nggak mau terlalu memastikan (kalo kata anak gaul sih pacaran, kalo kata Islam itu Ta'aruf) dulu, bukan karena nggak yakin, tapi karena memang akunya masih pengen menikmati banyak hal dulu sebelum fokus ke hal yang lebih intim, yaitu nikah.

Mesti abis ada yang baca paragraf tersebut terus ada yang bilang, "Ciee Galau, baper"

Whatever, siapa tau kamu yang mbaca yang diam diam tak suka gimana? Ntar malah kamu yang baper :p (khusus pembaca yang cewek ya, yang cowok jangan harap aku bakalan menyukaimu ya. NGGAK BAKAL)

Oke kembali ke topik, pada intinya, aku sudah membeberkan beberapa hal kecil yang sebenarnya terjadi. Jadi biar ngga terlalu di kira pencitraan ataupun penipuan publik.

Dan tetap saya (masih) jadi orang yang tidak terlalu berpikiran dengan komentar komentar orang. Pepatah mengatakan, "Kamu cuma punya dua tangan, ngga mungkin dengan 2 tanganmu di pake buat menutup setiap mulut yang membicarakan dirimu. Kenapa kedua tanganmu nggak di pakai buat nutup kedua telingamu  aja?"

Terakhir, sekali misterius tetap misterius. Biarlah orang menerka nerka aku seperti apa dan aku orang yang bagaimana. Selamat menerka :D


*Postingan ini di buat dalam rangka ingin menulis sesuatu yang berbeda aja, tidak ada unsur apapun di balik terciptanya tulisan ini*
Sebuah hari istimewa telah di lewati. Hari dimana aku merayakan ulang tahunku, yang saat ini aku sudah genap berusia 20 tahun. Tak terasa sudah berkepala dua saja aku. Teriring ucapan, doa, dan harapan mengalir kepadaku. Terima kasih buat semua doa dan harapan yang sudah di ucapkan untukku. Semoga Allah mendengarkan doanya dan semoga doanya juga terwujud bagi yang mengucapkannya juga :)

Dan ada sesuatu spesial di hari ulang tahun kemarin. Sebuah kejutan dari temen temen Sie Acara FDK 2014. Wow! Nggak nyangka temen temen panitia acara tahun lalu memberikan ucapan selamat dan memberikan kue ulang tahun. I'm so speechless at that time.

Jojo - Jati - Bella - Ojan - Rafika - Tika - Diaz - Iman

Kejutan Dari Sie Acara FDK 2014

Tradisi wajib anak acara fdk 2014. SELFIE!
Dan ada sebuah momen yang bikin kita semua tertawa. Lilin yang menyala di atas kue menunjukkan angka 43. Oh God! Aku berulang tahun yang ke 43 Tahun. Hahaha, semua karena efek hasil coba coba aplikasi di how-old.net.


Hasil iseng pake aplikasi how-old.net
Overall, aku sangat senang saat itu. Terima kasih buat temen temen Sie Acara FDK 2014. Kalian keren banget, kalian hebat dan kalian luar biasa. Nggak nyesel punya keluarga kecil yang keren keren seperti kalian :3

Spesial lagi, ini ada video dari mereka. Detik detik kejutan ulang tahunku. Hahahaha


"Tahu ngga waktu kita bawa kuenya ke kamu, dan ketemu banyak orang di lantai 1, kita tuh malah di tanya gini. Eh hari ini ada dosen yang ulang tahun ya?" - Quotes of the day, 10 Mei 2015 -
Sekarang Terlihat kan siapa yang bermuka dua? Siapa yang sebenarnya menyimpan rasa ke orang lain? Siapa yang sebenarnya nggak konsisten? Well done for you and Thanks for judge me before
Terkadang merasa sedih ketika melihat orang orang sedang sibuk dengan dunianya, dengan kreativitasnya, dengan passionnya, dengan perjuangannya untuk mencapai sebuah juara, sedangkan aku disini hanyalah sekedar duduk diam manis, memandang laptop sembari menulis sesuatu yang mungkin lebih di sebut sebgai sebuah cerpen. 

Sedikit terlintas di dalam benak, aku merindukan kumpul dengan kalian kalian. Namun selalu saja alasan sibuk menjadi tameng utama penghalang kumpul kumpul. Sibuk, sebenernya alasan klasik yang ngga bisa di ganggu gugat.

Kemudian aku berkaca dalam diriku, mungkin akunya yang terlalu selow saat ini. Ya sepertinya demikian. Agendaku di semester ini bahkan bisa di bilang hanya kuliah praktikum dan ngurus KKN. Untuk KKN pun juga aku hanya sekedar menjadi anggota pasif. Selebihnya, aku hanya sekedar nongkrong di Lab Sistem Frekuensi Tinggi, ngeliat orang riset dan sudah itu aja.

Nggak tau apa harusnya aku seneng atau sedih, mungkin bagi sebagian orang yang sibuk pengennya selow tapi nggak dengan saya yang sebenernya pengen seimbang antara sibuk dan selow. Terlalu selow seperti ini justru membuat aku mengingat dimana masa masa sibuk banget dahulu. Ya sebenernya sibuk banget itu lebih baik daripada selow banget, tapi seimbang antara sibuk dan selow tetap paling baik.

Terakhir, buat yang masih sibuk sibukan dengan urusan dan amanahnya, tuntaskan dan selesaikanlah dulu saja. Mungkin suatu saat ketika kamu merasakan hidup terlalu selow, nanti jadinya seperti saya. Nikmati dulu saja segala kesibukan yang ada, kan masa masa sekarang berarti masa masa produktif untuk beraktivitas dan brkarya.

Selamat Bersibuk sibuk buat yang masih sibuk. Manfaatkan waktumu :)
"Kalau setiap cerita hidup kita selalu indah, Hati ini nggak akan pernah kenal dekat dengan SABAR dan IKHLAS"

Kalimat itu aku temukan di dua tempat yang berbeda, ketika di kirim pesan singkat oleh seorang kakak angkatan dan ketika sedang di Mushola Teknik UGM. Sebuah kata yang sederhana namun maknanya sangat besar dan banyak serta dalem.

Mungkin kalimat itu sangat tepat untuk temen temen yang sedang menikmati indahnya UTS namun menemui hambatan dan kegagalan ketika melaksanakan UTS tersebut. Entah tiba tiba lupa bawa kartu ujian, lupa bawa bahan materi yang ujiannya openbook, salah belajar mata kuliah yang diujikan esok hari, atau bahkan salah ngerjain soal ujian.

Terkadang juga untuk orang orang yang mengalami nasib sial seperti itu mungkin akan merasa gagal kecewa atau bahkan mungkin ada juga yang berpikiran "Kok gue bego banget ya bisa kayak gini" 

Ya itu memang hal yang lumrah bagi manusia biasa seperti kita. Rasa kecewa ketika gagal itu hal yang biasa muncul. Tapi kecewa itu tidak boleh berlarut larut. MOVE ON! Move on itu nggak cuma berlaku buat yang abis di putusin atau abis nembak tapi di tolak, tapi move on dari kegagalan di saat ujian itu juga harus. 

Pokoknya intinya adalah tetap semangat buat berkarya. Gagal UTS bukan berarti Semester ini gagal sepenuhnya. Dan senantiasa berpikir positif dari apa yang terjadi dari setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita. Bersyukur ketika mendapat kabar baik, Bersabar ketika mendapat kabar kurang baik. 

Sekian. Ayo Move On (Dari UTS)! Salam Semangat! 
(Cerita ini hanyalah Cerita Fiksi Belaka, kesamaan nama dan latar cerita merupakan unsur ketidaksengajaan)

Perempuan Tanpa Nama

Langit mendung gelap menyelimuti kota Jogjakarta sore itu. Memberikan pertanda bahwa akan turun hujan sebentar lagi. Beruntungnya bagi aku saat itu sudah berada di stasiun Lempuyangan, bersiap untuk berkelana meninggalkan kota Jogjakarta.

Stasiun Lempuyangan
Sebelumnya perkenalkan, namaku Irfan, seorang mahasiswa semester akhir Universitas Gadjah Mada jurusan Ekonomi. Aku adalah orang asli Jakarta yang sedang berkuliah di Jogjakarta. Hari ini kebetulan aku berencana pergi ke Jakarta, menikmati liburan akhir pekan bersama keluarga, menjauhi segala urusan kuliah dan tentunya menjauhkan skripsiku untuk sementara.

Dan benar saja, tepat setelah aku tiba di stasiun, hujan pun turun dengan derasnya bersama dengan petir menggelegar, "Syukurlah aku sudah di sini," kataku dalam hati. Suasana di stasiun saat itu sangatlah ramai. Mungkin karena hari itu merupakan hari pertama dari weekend, jadi wajarlah kalau stasiun di penuhi oleh banyak orang.

Setelah mengecek tiket ke petugas dan di ijinkan untuk masuk peron stasiun, aku pun bergegas mencari tempat duduk untuk menunggu kedatangan kereta yang mengangkutku sore itu. Ternyata kondisi di peron stasiun juga tidak kalah ramai di banding di luar peron. Kebanyakan dari mereka adalah para penumpang kereta prambanan ekspres tujuan Kutoarjo (Kebetulan kereta Prambanan Ekspres datang 10 menit lagi). Jadi mau tak mau, aku pun duduk lesehan di lantai dekat rel jalur 1.

Sembari menunggu kereta, aku melihat sekitarku. Banyak dari penumpang di stasiun sore itu adalah remaja remaja dan rombongan keluarga. Ya mungkin mereka juga memiliki niat yang sama denganku, menghabiskan akhir pekan ini dengan berkumpul di rumah bersama keluarga.

Pukul 16.00, kereta Prambanan Ekspres tujuan Kutoarjo pun datang. Penumpang pun berbondong bondong menunggu kedatangan kereta tersebut di peron jalur 2. Setelah penumpang naik dan kerta berangkat, sesaat suasana stasiun menjadi lebih sepi di banding tadi. Lumayan sepi.

20 Menit kemudian, tiba tiba muncul sebuah pengumuman bahwa kereta yang aku naiki mengalami keterlambatan 30 Menit. Aku pun hanya bisa menghela nafas. Jika kereta api yang aku tumpangi sore itu terlambat, otomatis aku pun tiba di Jakarta nya akan terlambat juga, atau justru lebih larut di bandingkan jadwal seharusnya. Belum lagi aku sudah berpikiran bahwa perjalanan panjang ini akan membosankan. Sepanjang sejarah aku naik kereta, aku belum pernah mengalami ketidakbosanan. Aku lebih memilih duduk dan diam serta menikmati kebosananku ketimbang harus berbicara dengan penumpang lain didepanku

Kereta Api Ekonomi 1
Singkat cerita, kereta yang akan membawaku ke Jakarta pun datang. "Yap, terlambat setengah jam, berarti sampai di Jakartanya sekitar jam 1 pagi," Gumamku dalam hati. Setelah kereta berhenti, aku pun masuk ke gerbong 4 dan mencari tempat dudukku. Di dalam kereta sudah terisi oleh beberapa penumpang lain. Memang kereta yang aku tumpangi berangkat dari Stasiun Purwosari sehingga beberapa tempat duduk sudah terisi oleh penumpang dari purwosari.

Hingga aku menemukan tempat dudukku dan di situ sudah ada 2 orang, seorang wanita dan pria yang kalau aku prediksi umurnya masih relatif muda atau mungkin bahkan seumuran. Aku terkejut ketika melihat wanita yang duduk di sana, sepintas terlihat seperti temanku, atau mungkin orang yang pernah dekat dengan aku dan lucunya dia pun juga terkejut ketika melihatku, seperti ada sesuatu. Wanita tersebut tidak begitu tinggi dan terlihat cukup menarik dengna kerudung berwarna merahnya.

Dengan sopan aku permisi untuk melewati mereka berdua (kebetulan tempat dudukku di dekat jendela) dan duduk sembari melihat keluar jendela. Hujan masih turun saat itu, meskipun sudah tidak sederas tadi. Dan aku tetaplah menjadi aku yang kaku, yang diam tanpa kata sembari menatap pemandangan di luar kereta.

Hingga berselang beberapa menit kemudian, seorang penumpang di deret bangku kami pun datang. Seorang laki laki yang masih terlihat cukup muda datang dengan wajah ceria dan tampak bahagia. Sekilas aku berpikiran bahwa pasti dia akan menjadi orang yang dengan sok tahuannya bakal berbicara panjang lebar dan mesti membosankan. Jadi aku lebih memilih tetap melihat langit di luar jendela yang sudah kembali cerah.

Kereta pun berjalan meninggalkan Jogjakarta tepat pada pukul 16.50. Dan sesuai dugaanku, pria yang datang terakhir tadi pun memulai pembicaraan dengan pria yang duduk di depannya. Pria tersebut duduk saling berhadapan, dan aku pun duduk berhadapan dengan si wanita dan aku . Sembari aku melihat pemandangan di luar, aku mendengarkan pembicaraan kedua pria tersebut. Entah kenapa pembicaraan mereka sangatlah seru dan tidak seperti pembicaraan pembicaraan satu arah membosankan yang sering aku dengar ketika dalam kendaraan umum.

Sekilas aku memalingkan pandanganku ke mereka berdua, dan ternyata apa yang aku lakukan justru membuat aku di serang pertanyaan dari kedua orang tersebut.
" Kalo masnya turun mana ya?" Tanya masnya yang duduk di serong sebelah kiriku.
" Saya Jatinegara mas, masnya turun Jakarta juga?
" Nggak mas saya turun Bekasi kok" Balasnya dengan sedikit tersenyum.

Dan setelah itu mulailah terjadi pembicaraan diantara kita bertiga, aku dan kedua laki laki itu. Sayangnya wanita yang duduk di depanku masih tampak asik bermain gadgetnya. Sekian lama kita berbicara, akhirnya laki laki yang duduk di samping wanita tersebut mulai membuka pembicaraan dengan mengajak wanita tersebut.

"Oiya kalau mbaknya turun dimana ya?"
" Oh emm, saya turun di Pasar Senen mas. Hehe," Jawab wanita tersebut dengan agak canggung.
" Wah mbaknya grogi kayaknya mas," Tiba tiba aku menceletuk pembicaraan mereka.

Dan kami berempat pun tertawa bersama.

Tak terasa perjalanan kereta ini telah tiba di stasiun Kebumen. Langit pun terlihat semakin redup, menampakkan cahaya senjanya di ufuk barat. Dan di sini, kami berempat pun masih senantiasa saling bercerita satu sama lain. Apapun kami ceritakan. Pengalaman, cerita lucu, cerita horror, politik dan banyak topik pembicaraan yang kita saling cerita di sini.

Di tengah asiknya kami saling bercengkrama satu sama lain, aku pun menyadari sesuatu. Aku sama sekali tidak pernah berbicara langsung kepada wanita yang duduk di depanku. Pun demikian dengannya, tidak pernah berbicara langsung denganku. Meskipun kita sama sama pernah saling menimpali pembicaraan kedua laki laki tersebut, tapi kita sama sekali tidak pernah berbicara secara personal untuk kita berdua.

Pembicaraan kami pun tak terasa terus berlanjut hingga kereta tersebut tiba di stasiun Purwokerto. Waktu saat itu menunjukkan pukul 20.00. Tak terasa kami pun mulai sedikit demi sedikit kehabisan topik pembicaraan. Satu demi satu pun mulai memilih untuk istirahat. Aku pun kembali melihat keluar jendela, menatap langit gelap dan cahaya lampu di luar. Sekilas terlihat pantulan wajah wajah penumpang di dalam kereta, termasuk wanita yang duduk di depanku. Tampak terlihat cantik dengan jilbab berwarna merahnya.

Kereta Api Ekonomi 2
Aku pun memejamkan mata, berusaha beristirahat sejenak. Sialnya aku justru terpikir sebuah pertanyaan besar dalam usahaku untuk tidur saat itu. Siapa sebenarnya wanita yang duduk di depanku? Kenapa aku justru penasaran dengan wanita yang duduk di depanku? Dalam hati aku berkata," Nanti ketika sudah hampir tiba di Jakarta, aku harus bisa tau siapa wanita tersebut." Hingga akhirnya aku pun bisa memejamkan mata dan tertidur pulas saat itu, dengan meninggalkan beberapa pertanyaan tersirat dalam benakku.

Pukul 00.30, aku terbangun dari tidurku. Kereta saat itu lebih sepi di bandingkan sebelumnya. Semua terlihat sedang tertidur sepenglihatanku, termasuk laki laki yang ada di sebelahku dan wanita yang ada ada di depanku. Sekilas aku memandang wanita tersebut, terlihat cantik di kala ia tertidur. Aku pun mengambil air mineral karena tidur lama membuat tenggorokanku terasa kering. Lalu akupun memandang keluar Jendela, berharap aku dapat mengetahui sekarang aku sudah tiba di daerah mana.

"Mas ini sudah sampai mana ya?" Sebuah suara yang tidak asing lagi aku dengar ketika aku sedang mengamati luar jendela.
"Eh mbak, ngg, ini kayaknya baru lewat Cikampek deh," Jawabku dengan setengah grogi. Pada akhirnya kami bisa berbicara langsung meskipun di rundung dengan grogi yang sangat terlihat.
"Oh masih jauh ya berarti?"
"Mungkin satu jam lagi sampai di Jakarta mbak," Kataku dengan sok tahunya sembari melihat jam di tanganku. Dengan segala keberanian akupun berusaha mencoba membukan sebuah pembicaraan. " Mbaknya kuliah di Jakarta?"

Sontak mbaknya tertawa kecil," Nggak mas, saya kuliah di UNS Solo, jurusan Farmasi. Lah masnya darimana?"
"Saya dari Ekonomi UGM mbak," Jawabku dengan menunjukkan mimik yang berusaha biasa saja dan santai
"Masnya semester berapa?"
"Duh mbak kok tanyanya semester, saya sudah tahun terakhir kuliah mbak,"
"Walah mas, jangan pake saya, nanti malah aku terlihat tua. Kan kita seangkatan," Lalu aku terkejut ketika wanita tersebut satu angkatan. Dan setelah aku tahu dia satu angkatan, kami pun berbicara panjang lebar dengan lebih santai. Terkadang kami bisa tertawa bersama diantara cerita cerita kami. Bahkan tak jarang tertawa kami justru bisa membangunkan laki laki yang duduk di sebelah wanita tersebut.

Hingga tak terasa keretapun memperlambat lajunya, pertanda akan masuk di sebuah stasiun.
"Wah kayaknya sudah mau sampai Bekasi nih," kata wanita tersebut di sela sela pembicaraan kita. Aku pun melihat keluar jendela dan ternyata benar, kereta ini telah tiba di Bekasi.

"Mas mbak, saya izin turun duluan ya," Laki laki yang duduk di sampingku ternyata hendak turun di stasiun Bekasi.
"Oiya mas," Jawabku dengan tersenyum. Lalu laki laki tersebut mengajak bersalaman dengan masing masing dari kami.
" Sampai jumpa di lain kesempatan, jika Allah menghendaki," Kata si laki-laki sambil menyalami tanganku dan kemudian di susul menyalami tangan wanita yang duduk di depanku.
"Insha Allah mas," Balas sang wanita. Kemudian laki laki tersebut turun meninggalkan kereta api.

5 Menit kemudian, kereta api berjalan kembali, meninggalkan stasiun Bekasi. Iseng aku melihat keluar jendela, ternyata hujan sedang turun dengan derasnya. Perkiraanku di Jakarta pastilah sedang hujan.

"Oiya saya tak pindah tempat duduk ke gerbong depan ya," Ujar laki laki yang duduk di sampingku sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Oh iya mas," Jawabku pendek. Praktis di kursi itu tinggal ada kita berdua, aku dan si wanita.

"Mas nya uda mau turun ya bentar lagi?" Tanya wanita tersebut tiba tiba, yang sampai saat ini belum aku ketahui siapa namanya.
"Eh iya, paling sekitar 15 menit lagi sampai di stasiun Jatinegara," Balasku sambil aku memainkan gadgetku. Iseng aku mengintip ke arahnya. Tampak sesekali wanita tersebut memperhatikan aku dan kadang aku sesekali memperhatikannya. Ada keinginan untuk sekedar berkenalan, mengenal dirinya dan yang yang paling penting mengetahui namanya. Tapi aku terlalu malu untuk sekedar bertanya,"siapa namanya mbak?"

10 menit setelah kereta berjalan, kita sama sama saling diam, Sesekali aku melihat langit luar, mungkin sekedar berharap kereta ini berjalan lebih lama lagi. Tapi aku sadar, itu sesuatu yang tidak mungkin. Kereta pun tetap melaju dan mungkin sekitar 5 menit lagi aku akan turun di stasiun Jatinegara.

"Mbaknya balik minggu besok ke Solo nya?" Tanya aku dengan harapan bisa mencairkan suasana.
"Oh nggak mas, aku baliknya besok minggu ke Pemalang naik Kereta Tawang Jaya. Mau pulang ke rumah dulu soalnya," Jawab wanita tersebut sambil sedikit tertawa. Berarti aku tidak mungkin bertemu dengannya di perjalanan kembali ke Jogja.

Dan keretapun mulai memperlambat lajunya kembali, pertanda akan masuk stasiun. Aku pun melihat keluar jendela dan memang sesaat lagi kereta akan segera masuk stasiun Jatinegara. Segera aku ambil tas milikku yang berada di atas tempat dudukku.

"Mas nya udah mau turun ya?" Kembali pertanyaan itu terucap dari wanita tersebut.
"iya nih, yah uda mau turun aja aku," Jawabku dengan spontan sambil mempersiapkan barang yang aku bawa.
"Terima kasih ya mas," Sontak aku terkejut mengapa tiba tiba dia mengucapkan terima kasih.
"Buat apa mbak?"
"Ya sudah menghindarkan aku dari kebosanan di kereta. Aku biasanya di kereta lebih senang diam dan baru kali ini merasa bisa rileks bisa berbicara dengan penumpang lain di kereta,"
Aku tersenyum, dan dengan singkat aku balas," Sama brarti kita."

Kereta pun ternyata sudah berhenti di stasiun Jatinegara dan sesaat lagi kereta aku segera berangkat lagi. Aku justru kaget ketika kereta akan segera berangkat lagi.

"duh keretanya udah mau berangkat lagi ya? Aku turun dulu ya," Ucapku dengan terburu buru. Lalu aku mengajak menyalami wanita tersebut dan bersalamanlah kita satu sama lain. Lalu aku segera pergi meninggalkannya karena takut kereta tersebut akan segera kembali berjalan.

"Mas!" Panggil wanita tersebut dari tempat duduknya. Aku yang mendengarnya langsung menoleh kebelakang.
"Semoga kita bisa bertemu lain waktu lagi ya," kata wanita tersebut sambil tersenyum.
"Iya Insha Allah," Balasku sambil tersenyum kepadanya. Ada kesenangan tersendiri saat itu ketika masing masing dari kita sama sama berharap bisa bertemu suatu saat. Meskipun tidak ada yang tahu kapan kita akan bertemu lagi.

Aku pun bergegas turun dari kereta saat itu, kereta ternyata sudah berjalan secara perlahan dan aku pun memilih untuk melompat dari pintu. Untungnya aku tetap masih bisa turun dari kereta saat itu. Dan selang beberapa detik kemudian, kereta pun mulai bergerak lebih cepat.

Stasiun Jatinegara Dini Hari
Aku melihat kereta yang perlahan bergerak meninggalkan stasiun Jatinegara dari pinggir peron. Setelah kereta pergi meninggalkan stasiun, aku melihat sekelilingku. Stasiun sangat sepi saat itu. Maklum, saat ini waktu menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Beberapa penumpang yang turun dari kereta Bengawan pun telah meninggalkan stasiun menuju pintu keluar.

Kemudian aku bergerak menuju pintu keluar stasiun yang ternyata sudah di sambut dengan keramaian tukang ojek dan taksi yang menawarkan jasanya. Dan sesuai dengan dugaanku, saat itu Jakarta sedang di guyur hujan deras. Setelah aku mendapatkan taksi segera aku menuju pulang ke rumahku di daerah Duren Sawit Jakarta Timur.

Sebuah perjalanan di kereta yang menyenangkan telah berlalu. Sebuah perjalanan yang sama sekali jauh dari kata membosankan. Baru pertama kali aku rasakan bisa bercengkrama dengan penumpang lainnya ketika di kereta. Terlebih, aku bisa bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa dan menawan selama perjalanan. Namun sebuah kekecewaan ketika aku sama sekali tidak bisa mengetahui siapa nama wanita tersebut hanya karena ketidakberanianku bertanya ke dia.

Pada akhirnya diapun hanya menjadi seorang Perempuan Tanpa Nama, yang hanya bisa di kagumi tanpa bisa dikenali lebih jauh. Yang hanya bisa di senangi namun kita tidak tahu siapakah dia secara lebih lanjut. Meskipun kecewa, tapi dalam hati aku yakin dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, sama sama ingin berharap bertemu di lain waktu. Namun hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan bertemu lagi.
Mungkin bagi sebagian orang, perubahan bisa di katakan memiliki tiga pandangan yang berbeda. Ada yang berkata bahwa perubahan itu sebagai sesuatu yang harus terjadi, sesuatu yang biasa saja, dan sesuaut yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ketiga pandangan yang sebenarnya tidak salah terhadap memaknai dari sebuah perubahan, karena pasti pandangan tersebut melihat dari 3 sudut pandangnya masing masing.

Perubahan itu pada umumnya adalah perubahan menuju arah yang lebih baik dan ke arah yang lebih positif. Tapi tentu saja, meskipun pelaku perubahan merasakan perubahan itu ke arah yang lebih baik dan lebih positif, tentu saja pasti masih akan ada sebagian dari orang orang yang menganggap kepada si pelaku perubahan negatif, atau mungkin tidak pantas berubah menjadi seperti itu.

Banyak kasus yang terjadi untuk kondisi dimana seorang pelaku perubahan, yang ingin menjadikan suatu kondisi yang lebih baik tapi justru di tentang oleh banyak orang. Kita ambil sebuah contoh sebagai berikut, seorang yang ingin menjadikan diri sendirinya lebih baik dari yang sebelumnya banyak memiliki kekurangan kekurangan yang di rasakan pribadinya, namun justru di tentang dan justru di anggap sesuatu yang aneh dan lelucon oleh teman teman dan lingkungannya.

Sebuah dilema tentunya pasti dirasakan oleh orang tersebut, dimana dia ingin menjadikan diri sendirinya lebih baik untuknya dan untuk lingkungannya namun justru timbul tanggapan tanggapan miring mengenai perubahannya meskipun masih ada segelintir orang yang masih mengapresiasi perubahannya. Sebuah dilema yang pastinya justru menimbulkan sebuah pemikiran apakah perubahan yang di lakukan adalah sesuatu yang benar ataukah sesuatu yang salah.

Lantas harus bagaimana jika seperti itu?

Think it Again, ada baiknya setiap langkah perubahan yang ingin kita ambil di pikir lagi. Perlu juga untuk setiap perubahan yang disengajakan untuk terjadi di kritisi lagi oleh kita dengan membuat beberapa pertanyaan pertanyaan seperti ini

Apakah perubahan itu perlu untuk dilakukan saat ini?

Apakah perubahan itu memberikan manfaat besar untuk saya dan lingkungan sekitar saya?

Apa dampak dari perubahan tersebut untuk saya dan untuk lingkungan sekitar saya?

Jika lingkungan sekitar tidak menghendaki perubahan namun Anda tetap ingin menghendaki, apa dampak terbaik dan terburuk yang akan terjadi? (Dan sebaliknya)

Apakah Anda siap dengan segala konsekuensi yang terjadi jika perubahan itu terjadi pad diri anda?

Dan tentu saja masih banyak pertanyaan pertanyaan lain mungkin yang bisa di gunakan untuk mengkritisi perubahan yang ingin dilakukan.

Satu hal yang perlu di ingat adalah perubahan baik menurut kita belum tentu bisa dianggap baik oleh lingkungan sekitar. Selama perubahan itu menjamin bahwa kedepannya orang orang akan bisa mendapatkan sesuatu yang sama sama menguntungkan meskipun awalnya terasa memberatkan, tetaplah lanjutkan perubahan tersebut.

Perubahan dalam diri sendiri pastilah terjadi karena ada niat tulus dari dalam hati untuk menjadi yang lebih baik. Lingkungan sekitar memang tidak mungkin bisa langsung menerima perubahan itu secara cepat. Selama proses perubahan itu terjadi secara konsisten dan baik baik saja, Insha Allah lingkungan sekitar juga akan bisa menerima perubahan dari dalam diri itu sendiri.

Terakhir, pilihan untuk berubah ada di tangan kita masing masing. Jika kalian takut berubah menjadi diri sendiri karena tekanan dari lingkungan sekitar, maka kalian selamanya akan menjadi pribadi yang itu itu saja. Jika kalian mau berubah demi kebaikan diri kalian sendiri, Insha Allah kalian juga yang akan mendapatkan manfaatnya.
Tak terasa semester ini sudah hampir berlalu selama separuh semester. Wah ngga nyangka ternyata sudah berlalu hampir sekitar 1 bulan aku menempuh kuliah di semester 6 ini. Dan ternyata banyak hal hal yang terjadi selama aku mengarungi semester genap ini.

Mungkin dulu aku pernah berkata bahwa aku ngga akan jadi orang sibuk di semester ini. Ya memang ngga jadi orang sibuk, sibuk dalam hal organisasi. Selebihnya, nyatanya aku juga sibuk juga dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan urusan akademisku. Kalau dahulu mungkin aku mengurusi Departemen Akademis KMTETI, sekarang aku mengurusi akademisku pribadi. Kuliah yang ternyata tugasnya ngga ketolongan berlalu lalangnya dan semacamnya, ngegarap urusan yang tak di duga. Ya semester ini ngga ada bedanya dengan semester semseter sebelumnya.

Kondisi yang seperti ini yang secara ngga sadar membuat aku menjadi pribadi yang berbeda dari yang sebelumnya. Dari yang mungkin gampang di temui sekarang jadi susah buat ditemui. Jadi yang biasanya akrab sama banyak kakak angkatan dan adek angkatan, kini aku jadi akrab sama orang orang yang sering tak temuin di Lab SFT aja. Dari yang dulu cukup humoris sekarang jadi terlihat lebih serius. Dari yang dulu sering terlihat ceria ketika bertemu orang orang kini lebih terlihat suntuk dan sayu seperti orang kelelahan. Sebenernya aku menyadari itu, but I can't do anything to save my habbit and get myself back.

Dan hebatnya adalah frekuensiku memegang smartphone ku sekarang tidak sesering yang dulu. Mungkin ada 2 faktor, karena akunya bisa bermedia sosial di laptop dan karena gadgetnya yang ngga bisa di ajak berkompromi. Tak jarang aku sering nggak tau kapan ada sms atau telepon dateng. Kadang aku baru buka sms beberapa jam setelahnya yang itu mungkin pesennya uda basi. Maafkan saya atas hal hal yang seperti ini.

Sedih, mungkin kata yang paling tepat menggambarkan sebenernya apa yang lagi tak pikirkan saat ini. Ketika orang orang yang sudah akrab satu persatu hilang karena ketidakbecusan saya dalam hal berkomunikasi di semester ini (padahal aku anak Telekomunikasi). Ketika aku justru ragu dan terkesan agak aneh ketika ingin memulai sebuah pembicaraan dengan orang orang yang dulunya sudah sangat akrab.Yaa banyak dilematika yang muncul, padahal hanya untuk sekedar memulai komunikasi dengan orang orang yang sudah lama tak berjumpa.

Pertanyaannya adalah sampai kapan aku bakal seperti ini? Entahlah. Aku seperti sedang terjebak dalam sebuah sistem yang memaksaku untuk seperti ini. Mungkin memang bagi sebagian orang, ini terkesan berlebihan. But you don't know how can this happened to me. 

Buat yang membaca ini dan mungkin merasa kesal dengan keadaan aku saat ini, aku meminta maaf jika itu membuat kalian tidak nyaman. Mungkin kalau kalian ada saran buat aku, Private message saja lewat media sosial, jangan lewat sms. Aku cuma ingin jadi pribadi yang seperti dulu lagi.
Generasi Muda Untuk Indonesia Yang Lebih Baik
(Fauzan Akbar - Teknik Elektro UGM 2012)

Miris, Mungkin kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Di saat negara negara lain sudah banyak melakukan perubahan perubahan signifikan untuk memajukan negaranya, kita masih jalan di tempat dan bergelut dengan persoalan dan konflik yang senantiasa melanda negeri tercinta. Kebobrokan di banyak sektor, kemiskinan, kesenjangan status sosial masih menjadi trending topic untuk negara Indonesia sampai saat ini. Apalagi jika kita lihat beberapa peristiwa yang terjadi akhir akhir ini, seolah semakin menampakkan citra negara Indonesia yang bisa di bilang semakin mengkhawatirkan.
Sangat banyak persoalan yang sedang di hadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, persoalan persoalan yang justru membuat Indonesia menjadi bangsa yang lemah, yang kehilangan arah dan tujuan awal dari berdirinya bangsa ini. Contoh dari persoalan polemik yang paling hangat adalah Korupsi. Korupsi adalah salah satu contoh permasalahan nyata yang sedang terjadi saat ini. Data dari Transparancy Internasional Indonesia (TTI) menyebutkan bahwa pada tahun 2012, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia turun peringkat dari 110 menjadi 118 dari 176 negara dengan skor 32, sejajar dengan Republika Dominika, Ekuador, Mesir dan Madagaskar. Sungguh ironi melihat negeri Indonesia tercinta ini, yang memiliki beragam keunikan keunikan yang ada didalamnya, namun memiliki petinggi petinggi yang suka menghambur hamburkan uang negara.
Hukum juga menjadi permasalahan yang cukup mencolok di negeri ini. Penegakan hukum di Indonesia masih terbilang sangat lemah. Palu hukum masih dapat di beli dengan uang dan kekuasaan. Prinsip “Yang kaya yang selamat, yang miskin yang melarat” masih sering terlihat dalam upaya upaya penegakan hukum di Indonesia. Pejabat tinggi penghambur uang rakyat hanya di hukum 2 tahun penjara, sementara maling ayam justru di hukum puluhan tahun penjara. Adilkah? Mungkin hanya bagi para hakim pengambil keputusan itu yang merasa adil.
Berbicara mengenai korupsi dan lembaga penegak hukum, baru baru ini sedang terjadi kisruh antara 2 lembaga penegak hukum di Indonesia, yaitu KPK dan Polri. Kisruh yang justru menguatkan pendapat bahwa hukum di Indonesia masih lemah, masih bisa di beli oleh orang orang tertentu dan masih bisa di atur oleh orang orang yang punya kekuasaan. Kisruh yang memunculkan banyak pertanyaan di masyarakat, bagaimana hukum di Indonesia mau lebih baik kalau antar lembaga penegak hukumnya saja justru saling serang.
Selain topik topik di atas, tentu masih banyak lagi permasalahan permasalahan krusial lainnya yang sedang dialami Indonesia seperti angka kemiskinan yang semakin merangkak naik, permasalahan infrastruktur, Pelayanan fasilitas publik yang tidak kunjung membaik dan masih banyak lagi. Semua masalah ini sebenarnya bermuara ke satu pertanyaan, yaitu dimanakah peran pemimpin atau negarawan yang seharusnya memiliki kepekaan sosial dan mampu membawa perubahan menuju Indonesia ke arah yang lebih baik serta sesuai dengan cita cita para pendiri dahulu.
Pemimpin atau bisa juga disebut negarawan memiliki andil besar terhadap segala hal yang terjadi di bangsa ini. Baik buruknya bangsa ini tidak hanya di tentukan oleh masyarakatnya saja, tapi juga bergantung kepada pimpinan pimpinan dan politisi yang memegang amanah dari rakyat untuk membawa negara Indonesia ke arah yang lebih baik. Sayangnya saat ini masih banyak pimpinan dan politisi yang masih jauh dari yang di harapkan sebagian besar masyarakat Indonesia serta masih jauh dari cita cita dan tujuan negara ini.
Pada saat pesta demokrasi terbesar 5 tahunan di Indonesia yang baru saja berlangsung tahun lalu, sering kita lihat poster, baliho dan bendera para politisi terpampang di seluruh penjuru daerah Nusantara.  Promosi besar besaran yang di ikuti dengan janji janji dari para politisi yang hendak beradu nasib dengan mencari suara rakyat. Sebagian dari mereka berkoar dengan mengatas namakan perwakilan rakyat dan membawa janji janji politik yang bisa menggugah hati rakyat agar bisa memilihnya. Tak jarang para calon politisi tersebut rela menghabiskan uang hingga puluhan, ratusan juta bahkan milliaran untuk biaya kampanye mereka, hanya demi sebuah mendapatkan suara rakyat. Selain itu, banyak juga politisi yang menghalalkan banyak cara demi mendapatkan kekuasaan di tingkat pemerintah.
Politisi yang seperti ini yang justru akan merusak dan semakin menjauhkan Indonesia dari cita cita utamanya. Politisi yang bermental uang seperti ini pada umumnya memiliki jiwa kepemimpinan yang lemah, sehingga tujuan dia mendapatkan kekuasaan adalah demi mendapatkan ketenaran sebagai politisi ternama namun tidak mementingkan visi dan misi nya yang di koar koarkannya dahulu. Janji pun tinggal lah janji semata, hanya di ucapkan untuk sekedar menarik simpati rakyat saja namun realisasinya tidak ada. Pemimpin politis yang seperti ini pada umumnya mengambil kebijakan hanya untuk penyelesaian jangka pendek, reaktif kepada permasalahannya dan kepentingan kelompok tertentu, khususnya partai pengusung atau koalisi pendukung. Kebijakan kebijakan yang di ambil bukan berdasarkan pada kondisi yang ada, bukan pula berdasarkan hasil analisis yang tepat dan akurat, namun lebih didasarkan pada kepentingan pribadi dan golongannya ketimbang kepentingan masyarakat.
Akibatnya, rakyat yang menanggung semua beban dari keputusan keputusan yang tidak bijak tersebut. Ketika rakyat mengharapkan sebuah perubahan nyata menuju Indonesia yang lebih baik dari pimpinan dan politisi yang terpilih, namun yang ada justru rakyat hanya di buat semakin tersiksa dan menderita dengan keputusan keputusan tersebut. Hal seperti ini yang menjadi alasan utama mengapa sebagian besar rakyat Indonesia bersikap sinis dan tidak percaya kepada pemerintahan. Kewibawaan pemerintah turun dimata rakyat. Masyarakat pun memilih caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah ketimbang menuruti kebijakan pemerintah yang di anggap tidak tepat.
Jika hal yang seperti ini terus di pertahankan, lantas mau menjadi apa negara Indonesia di masa yang akan datang. Negara Indonesia tidak akan maju jika pemerintah dan rakyatnya tidak saling bersinergi dan saling bahu membahu.  Indonesia akan tetap senantiasa terbelakang, bobrok dan tertinggal di banding negara negara lainnya. Indonesia butuh orang orang yang bisa merubah keadaan dan kondisinya saat ini. Bisa dikatakan pula Indonesia sedang krisis negarawan dan krisis orang orang yang berjiwa kepimpinan tinggi. Indonesia rindu akan pemimpin yang visioner, berjiwa sosial tinggi dan yang peduli kepada Tanah air.
Hal yang paling di butuhkan saat ini adalah generasi muda penerus bangsa yang siap dan memiliki visi yang kuat untuk membangun Indonesia serta mengembalikan Indonesia sesuai cita citanya. Generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi serta peduli dengan keadaan Indonesia saat ini. Seorang negarawan sejati harus bisa menyatu dengan rakyat, mendengar suara rakyat dan ikut tumbuh bersama rakyat, bersedia membantu dan melayani rakyat tanpa berharap untuk memperkaya diri. Jika generasi muda saat ini memiliki sifat sifat demikian, pasti lah akan terbentuk generas generasi penerus yang solid, yang akan membawa Indonesia kemabali pada tujuan awalnya.
Untuk menjadikan generasi muda yang siap merubah Indonesia, tidak mungkin di lakukan dalam waktu semalam suntuk. Masa masa di kampus merupakan saat yang tepat untuk mengasah jiwa negarawan pada generasi muda. Kondisi di kampus yang banyak tekanan dan permasalahan akan menjadi keuntungan sendiri untuk para generasi muda dalam melatih sifat sifat negarawannya. Lewat organisasi dan aktivitas di kampus, mahasiswa di latih kemampuan berpikir dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan yang ada. Di sini pula, para mahasiswa ini terbiasa dengan pemikiran yang mengedepankan kepentingan rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat dan berjuang dengan penuh totalitas tanpa pamrih.
Dengan hasil proses pembentukan di kehidupan kampus serta kebiasaan berpikir yang selalu berorientasi kepada kepentingan rakyat di harapkan terbentuklah generasi generasi muda yang memiliki jiwa negarawan sejati dan yang turut ikut aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sebuah negara. Generasi muda yang nantinya akan memegang peran penting dalam penentuan sebuah keputusan untuk negara. Generasi muda yang seperti inilah yang di dambakan Indonesia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Tinggal yang perlu ditekankan adalah kesadaran diri masing masing generasi muda untuk memiliki jiwa nasionalis. Karena faktanya masih banyak generasi muda yang terjebak dengan pola pikir yang salah. Pola pikir yang bersifat apatis dan tidak peduli kepada negara Indonesia. Memang untuk menjadi seorang negarawan muda di butuhkan proses yang panjang dan kemauan yang kuat. Sudah seharusnya generasi muda sebagai orang orang yang mampu mengubah Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik lagi, menuju Indonesia yang sesuai dengan cita cita nya dahulu. Jika bukan generasi muda, lantas harus siapa lagi yang memiliki jiwa muda dan semangat patriotisme untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju. Masa depan Indonesia ada di tangan pemuda. Jika pemuda tidak berinisiatif untuk bergerak, maka Indonesia akan tetap menjadi negara yang miris yang memiliki kebobrokan yang menjadi jadi.
Akhirnya setelah sekian lama diam dan tidak pernah bersentuhan dengan blog yang satu ini, malam ini saya kembali ke blog saya yang udah hampir berumur 6 Tahun. Waw tak terasa sudah lama sekali berkutat dengan blog ini. Blog yang (tak sengaja) tercipta karena paksaan untuk membuat blog pada saat matapelajaran TIK di SMP dahulu. Aku bahkan tak berpikir bahkan bisa mempunyai blog, menulis di sini, bercerita dan berbagi pengalaman pengalamanku. Aku pun juga tak menyangka sampai saat ini aku masih bisa senantiasa menulis, konstan untuk mengupdate tulisan tulisanku, ya meskipun sebulan sekali atau bahkan 2 bulan sekali, tapi setidaknya aku masih memiliki rasa senang jika bertemu dengan blog ini.

Lantas aku iseng membuka tulisan tulisan lamaku, tulisan ketika zamannya aku SMP dan SMA. Satu hal yang bisa membuatku geleng geleng kepala, ternyata aku pernah mengalami masa masa sealay itu. Masa masa dimana kamu senang menyingkat dan mengganti kata kata, Begitu menjadi gicuh, terima kasih menjadi thxx, dan huruf yang kecil bisa menjadi besar dengan sendirinya. Ya itu masa masa lalu, masa masa suram ketika aku senang menulis tetapi belum bisa menyusun struktur kata kata yang baik dan benar. 

Seiring berjalannya waktu pun apa yang di tulis menjadi lebih sedikit berkualitas. Lebih sedikit enak untuk di baca dan lebih sedikit enak untuk di lihat dan tidak menimbulkan opini buruk. Sedikit demi sedikit, tulisan itu pun berubah dari yang awalnya berisi celotehan yang tidak tersusun dengan rapi menjadi mulai rapi sedikit demi sedikit. Yang tadinya cuma nulis 4 kata di enter dan sekarang bisa nulis berparagraf. Awalnya terasa berat namun lama lama jadi terbiasa untuk menulis dengan rapi.

Dari yang awalnya segala macam curhatan keluar semua di blog dan kini berusaha untuk menyaring dan sedikit mengurangi curhatan. Sahabatku pernah berkata, "Galau di media sosial ngga bikin kamu keren" Perkataan yang sungguh membuatku berpikir, lalu berkaca diri. Memang banyak julukan julukan yang kurang mengenakan yang melekat di diri. Sayangnya bukan julukan yang bagus. Tukang galau, Alay, dan semacamnya pernah menyandang di aku. Bahkan ketika aku lagi nggak galau pun tetap di bilang galau, di bilang bercanda pun di bilang galau. Lalu aku berkesimpulan, apa yang kamu perbuat di hadapan orang lain, itulah yang akan kamu dapatkan. Kamu senengnya update status galau, tiap hari tiap waktu, ya maka wajar lah ketika orang memanggil kamu "The Galauers", Meskipun kamu bilang nggak. Percayalah, terkadang pencitraan itu perlu.

Oke dan tak terasa sekarang aku bisa menulis dengan lebih menyenangkan. Bisa mengekspresikan dengan menjauhkan unsur unsur alay itu. Atau dengan kata lain sudah menemukan kenikmatan sendiri dalam menulis. Harapanku aku bisa kembali menulis lagi dan berbagi cerita cerita yang semoga bisa membuat yang baca menikmati setiap kata kata yang aku tulis. 

Sekian postingan pembuka kali ini. Salam semangat! :)
[15 Desember 2014]
Pagi ini di mulai dengan melihat buku jurnalku. Sejenak ku pandang jadwalku hari ini. Padat? Oh ternyata udah nggak. Tak terasa. Perasaan dulu sering banget komentar dan nggerutu "Kok jadwalnya penuh terus?". Sekarang tak terasa sudah menikmati masa masa Tidak Sibuk Organisasi

Halo perkenalkan, nama saya Fauzan Akbar, mahasiswa prodi Teknik Elektro UGM angkatan 2012. Aku uda semester 5 dan bentar lagi sudah semester 6, sudah melewati masa produktif aktif di kegiatan kegiatan organisasi kampus. Mungkin bisa di bilang sudah menjadi sesepuh di organisasi, tapi akunya belum sepuh sih. Ini ceritaku, perjalanan keorganisasianku kurang lebih 2 tahun selama aku aktif di kegiatan mahasiswa baik tingkat Jurusan maupun Fakultas.

Oktober 2012, ketika waktu aku selesai melaksanakan FDK 2012 sebagai peserta (FDK adalah acara Orientasi pengenalan Jurusan), secara beruntung aku di terima sebagai staff di KMTETI. Staff Departemen Akademis Angkatan 2012. Sebuah langkah awal dimana aku akan memulai untuk meniti karir di KMTETI. Tapi waktu itu aku hanya sebagai staff. Dan secara kebetulan saat itu aku tidak mendapatkan kerjaan apapun di sana. Tapi setidaknya aku mendapatkan 2 hal yang cukup besar di sini, Pengalaman dan Keluarga.

Lalu mulailah aku mencoba sebuah peruntungan dengna mengikuti kepanitian besar. Saat itu aku di amanahi sebuah kerjaan di sebuah acara yang cukup besar di JTETI, FDK 2013. Oke, Saat dimana aku memulai pertaruhan waktuku dengan menjadi Tim Acara tahun lalu. Kenapa aku bilang pertaruhan waktu? Hampir setiap minggu di habiskan untuk rapat rapat dan rapat. Menyusun setiap acara dan segalanya untuk mempersiapkan kedatangan adek baru, JTETI angkatan 2013. Setidaknya hal ini di lakukan hampir selama 7 Bulan lamanya, dari bulan Mei 2013 - November 2013, dari menyusun rancangan awal hingga pelaksanaan yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan lamanya. Saat itu pula aku masih di posisi sebagai adek angkatan. Masih ada angkatan 2011 yang membimbing di kepanitiaan ini.
Sie Acara FDK 2013 (Kurang 2 orang)
Sie Acara FDK 2013, Feels like a Superstar
Akhir November, dimana aku maju sebagai calon ketua KMTETI untuk periode tahun 2014. Sebuah tantangan yang harus aku lalui. Menyusun visi misi, menghadapi fit and proper test dan kampanye. Memang hanya 2 minggu aku melaksanakan hal hal tersebut.

"Mau TETI lebih satu? Pilih Nomor 1"
Tetep menjadi bagian dari PH KMTETI 2014
Tapi itu jujur sangat banyak memakan waktuku. Karena sebuah tujuan yang benar benar bermanfaat dan baik tidak mungkin terjadi hanya dalam satu malam. Meskipun di akhirnya akupun tidak jadi ketua KMTETI, tapi aku belajar banyak bgaimana cara mengatur diri ketika menghadapi tekanan yang ada.

Technocorner 2014, sebuah big event dari KMTETI yang berkaitan di bidang teknologi. Di event tersebut aku di amanahi menjadi Seksi Dana Usaha. Kepanitiaan ini berlangsung dari November 2013 hingga April 2014. Di awal sempat merasa, kerjaanku tak akan sesulit yang aku kira. Ternyata itu semua palsu. Berkunjung ke banyak perusahaan untuk "mengemis" uang, menyusun strategi agar bisa mendapatkan uang dan menggerakkan serta mengatur panitia untuk mencari dana mandiri. Aku ingat, dulu dana mandiri di cari dengan menjual bunga di KM 0 dan Alkid dan kebetulan aku yang menjadi koordinator itu. Sebuah pengalaman yang luar biasa bisa berkecimpung dalam kepanitiaan yang hebat dan fenomenal seperti ini.
Jual Bunga untuk Technocorner di KM 0

Bulan Mei 2014, dimana aku mendapatkan amanah baru di sebuah kepanitiaan besar lagi. Kali ini kepanitiaan yang aku ikuti bukan tingkat Jurusan, tapi tingkat Fakultas. Yap, menjadi panitia PPSMB Fakultas (ini semacam pengenalan Fakultas untuk mahasiswa baru Teknik 2014) dan kali ini aku menjadi PEMANDU. Tugas dari pemandu sendiri adalah memandu adek adek mahasiswa baru Teknik 2014 dai kegiatan Pra PPSMB sampai Pasca PPSMB. Dan perjuangan untuk menjadi seorang pemandu tidaklah mudah. Para pemandu harus melewati masa Training dan Simulasi, dan itu semua di laksanakan pada saat liburan pergantian tahun ajaran. Dan pemandu harus mengorbankan waktu liburan, dari jatah sekitar hampir 2 bulan menjadi hanya sekitar 3 minggu. Sedih? Sedikit, eh agak banyak ding.

PPSMB Prisma 2014
PPSMB Prisma 2014 - Unit 6
PPSMB Prisma 2014 - Unit 6
Tapi Semua itu terbayar lunas dengan apa yang di dapat. Awalnya memang susah ketika harus membimbing adek adek baru untuk bisa lebih mengenal Teknik dan membentuk karakter mereka agar sesuai dengan visi misi dari PPSMB itu sendiri. Hingga akhirnya aku mendapatkan banyak hal. Pengalaman, Keluarga baru, Adek adek baru, Teman Teman baru. Mungkin ini adalah salah satu amanah terbesar yang pernah aku rasakan, ketika di berikan tanggung jawab untuk bisa membawa adek adek Pandu untuk ke arah yang lebih baik. Sebuah tanggung jawab yang tidak cuma berakhir ketika acara PPSMB ini selesai, tapi berlanjut terus hingga waktu yang tak terhingga. Amanah yang besar namun aku sangat senang bisa mengemban amanah ini.

Sebagian dari Panitia FDK JTETI 2014
Di sela sela kesibukan sebagai panitia PPSMB, aku juga mengemban amanah FDK (lagi). Kali ini aku kembali menjadi Tim Acara FDK 2014. Tak jauh berbeda dengan FDK sebelumnya, namun di sini aku merasakan pressure kerja yang lebih. Mungkin karena sekarang aku menjadi kakak angkatan dan sebagian besar Koordinator juga di pegang angkatanku. Selain itu jumlah peserta yang lebih banyak juga menuntut Tim acara lebih kreatif dalam menyusun acara. Sangat melelahkan, debat di sana dan disini, brainstroming demi sebuah acara FDK 2014 yang bermanfaat dan menghindari yang namanya Perploncoan.
Sebagian dari Tim Acara FDK 2014
Yang lain kerja, aku istirahat sebentar
Tim Acara FDK 2014 - Olahraga Bareng
Tim Acara FDK Fullteam -
Survey Jogja Discovery - Jalan kaki dari Kampus ke Alkid
Tim Acara FDK Makan makan + Last Gathering
Sebuah perjalanan yang cukup panjang. Hampir sekitar 6 bulan pula bekerja di kepanitiaan ini. Di tambah lagi masih harus mengurusi hal hal lain yang juga sama sama penting. Selain itu masih pula mengurusi kegiatan kuliah yang terpenting dan tidak boleh di tinggalkan. Kemampuan buat ngatur waktu sangat di butuhkan di sini. Aku berusaha buat nggak meninggalkan satu amanahku. Berat memang, tapi di situlah tantangannya. Aku senang menghadapi tantangan tantangan seperti itu. Melatih diri untuk semakin terbiasa dalam pengaturan waktu.


Dan ada satu lagi amanah yang aku pegang paling lama, yaitu menjadi Ketua Departement (Kadept) di Departemenku sendiri, Departemen Akademis. Menjadi Kadept berarti harus memiliki pola pikir yang berbeda ketika kemaren menjadi seorang staff. Sebua kebingungan tersendiri awalnya ketika selama 1,5 tahun sebelumnya aku hanya menjadi staff gabut atau mungkin bisa di bilang anggota pasif dan sekarang di berikan amanah dari Ketua KMTETI terpilih untuk membawa Departemen Akademis ke arah yang lebih baik sesuai visi misinya.

Akademis di Kepengurusan Tahun 2013 - Futsal Barenng
Aku dulu mempunyai misi untuk di Departemen Akademis, menjadikan Departemen terinspiratif untuk KMTETI, baik dari prokernya, pandangan orang orang JTETI sendiri maupun dari kekeluargaan internalnya. Yang terjadi saat itu adalah Departemen ini sering kali di cap sebagai departemen yang kaku, yang paling jarang kumpul dan beberapa tanggapan miring lainnya.

Departemen Akademis Periode 2014 - Awal kepengurusan
Dan setelah hampir kurang lebih 1 tahun di sini, aku berhasil merubah beberapa mindset. Aku merasakan sebuah perbedaan yang amat mencolok ketika aku menjadi seorang staff dan sekarang ketika menjadi seorang kadept. Sebuah kekeluargaan yang lebih terasa di bandingkan sebelum sebelumnya. Setidaknya tidak ada kata kata lagi yang mengatakan, Departemen Akademis Departemen kaku. Meskipun sebenernya masih ada beberapa kekurangan yang ada dan tujuan awalku juga tidak tercapai, menjadikan Departemen Akademis Departemen terinspiratif. Semoga kadept berikutnya bisa menjadikannya Akademis Terinspiratif hahaha.

Semester 5 kemarin masa dimana aku menjadi orang yang terlalu banyak menerima amanah amanah di kegiatan besar. PPSMB Fakultas, FDK 2014, Departemen Akademis KMTETI, PH KMTETI 2014. Ya setidaknya ada 4 amanah besar saat itu, di samping tuntutanku sebagai mahasiswa yang harus mengejar prestasi akademik.


Departemen Akademis Periode 2014 - Akhir kepengurusan
About Passion
Merasa capek? Tentunya. Merasa lelah? Pasti. Tapi aku sama sekali ngga merasakan jenuh maksimal, pengen melarikan diri dari salah satu amanah tersebut ataupun justru pengen kabur. Kuncinya satu, PASSION. Ketika kamu merasa menikmati dalam pekerjaanmu, maka kamu tidak akan merasakan yang namanya kejenuhan. Ketika kamu memiliki passion atau menjiwai apa yang kamu lakukan, maka kamu akan tidak merasakan kegiatan itu memakan waktu kosongmu. Passion ku, ya dengan kegiatan kegiatan seperti itu. Mungkin bagi sebagian orang tidak menyukainya, tapi aku sangat menyukai melakukan kegiatan itu, berorganisasi.
"Just find your passion"

So, do what you love and love what you do and you will success.



Dan akhirnya semua kegiatan yang saya lakukan di 2 tahun pertama kuliah pun telah menjadi serpihan serpihan kenangan yang bakal tersimpan di memori otak. Masa masa organisasi sebagai orang sok sibuk mungkin sudah selesai. Kenapa ada kata mungkin? Karena aku ngga tau apakah di tahun 2015 ini beneran bisa santai atau ngga sibuk. Atau justru malah ada hal hal yang bakal lebih menyibukkan? Entahlah. Yang jelas, selamat datang di masa masa akhir kuliah, terutama buat yang angkatan 2012. Kerja Praktik, KKN, Skripsi, Pendadaran dan di tutup dengna Wisuda. Tinggal bagaimana cara terbaik untuk menutup perjalanan kuliah ini.




Oke sekian postingan panjang saya kali ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Buat yang baca, saya minta doanya juga biar di mudahkan di akhir akhir perjalanan kuliah saya ini. Semoga saya dan teman teman saya bisa menyelesaikan kuliah tepat sesuai waktunya. Sekian kurang lebihnya mohon maaf. Salam Inspiratif! :D

 Selalu meminta pertolongan Allah untuk setiap langkah yang kita ambil











"Kesan Pertama Menciptakan Kesan Terakhir" - R.L Shook

Kata kata tersebut saya dapat ketika sedang membaca sebuah buku bestseller karya Sulaiman Budiman yang berjudul Kita Harus Telanjang, Lebih Berani Menertawakan Diri Sendiri. Sebuah karya yang isinya mengajak kita untuk lebih percaya kepada diri sendiri, lebih percaya kepada potensi yang ada di dalam diri kita serta bisa memotivasi diri sendiri untuk membuat sebuah perubahan besar dalam diri.

Buku KITA MESTI TELANJANG karya SULAIMAN BUDIMAN
Ada sebuah bab yang cukup menarik untuk saya baca dan dalami, mengenai hal hal yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah kesan pertama dalam sebuah pembicaraan. Dalam tulisannya di gambarkan sebuah cerita sebagai berikut:

Bayangkan saat ini Anda sedang berada di sebuah pesawat yang tengah bersiap siap untuk membawa Anda dan para penumpang ke tempat tujuan. Lalu, kapten pilot pesawat terbang tersebut berdiri di hadapan penumpang dan berkata."Selamat pagi saudara saudara sekalian, selamat datang di pesawat GatotKaca dengan nomor penrbagnan GTKC-274 tujuan Makassar. Perkenalkan saya Heri Susanto selaku kapten pilot dalam penerbagnan kali ini. Saya di bantu oleh co-pilot Bambang Sumardi dan empat pramugari yang bersiap melayani Anda selama perjalanan ini berlangsung. Sebelumnya saya mohon maaf jika selama penerbangan ini terjadi kekurangnyamanana atau ada kendala teknis yang tidak kita harapkan. Mohon maklum, penerbangan ini merupakan penerbangan perdana bagi saya setelah lulus dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug. Selamat menikmati penerbangannya."

Bagaimana perasaan kalian jika di awal penerbangan kalian di berikan "sambutan" seperti demikian? Pastilah kalian akan merasa takut, panik, stress takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Mungkin bahkan sebagian dari kalian sudah ada yang menjerit histeris, sudah beristigfar berkali kali atau bahkan ada yang mendatangi ruang pilot, mendobrak pintunya dan berkata," Turunkan kami sekarang juga."

Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah di antara kita semua selalu menaiki pesawat terbang yang selalu di kemudikan oleh pilot professional? Apakah yakin kita selalu naik pesawat terbang yang tidak pernah di kemudikan oleh pilot pemula? Pastilah secara tidak sadar kita mungkin pernah menumpang pesawat yang di kemudikan oleh pilot pemula dan kita sama sekali tidak merasakan ketakutan yang berarti. Kok bisa?

Masalahnya bukan seberapa takut atau tidak takutnya, tapi karena si Pilot tidak memberitahu apakah ia Pilot pemula atau Pilot Profesional..

Lihat dari contoh cerita di atas, dapat di lihat bahwa Kemampuan memberikan kesan pertama kepada audience mempengaruhi pemikiran pendengar/audience kepada pembicara. Hal ini juga berlaku untuk para orang orang yang berpidato atau memberikan sambutan di depan orang banyak. Masih banyak dari sebagian orang berasumsi bahwa memberitahukan kelemahan di awal pidato akan membuat para audience memahami kondisinya sehingga jika terjadi kesalahan nanti, sudah akan di maklumi.

Selamat pagi para audience sekalian. Saya mohon maaf sebelumnya jika nanti selama saya berpidato, saya terdapat kesalahan berkata kata, pidatonya terlalu membosankan atau justru malah membuat Anda tertidur.

Yang ada di mindset audience justru sudah berpikir bahwa selama pidato nanti akan terdapat kata kata yang salah serta akan membosankan hingga membuat pendengar tertidur. Yang terjadi, justru pendengar lebih banyak yang bosan dan mungkin ada yang justru sudah merendahkan pembicaranya terlebih dahulu. Akan berbeda jika permohonan maaf itu di sampaikan di akhir sebuah pidato atau sambutan.

Berkenalan Dengan Orang Lain
Tidak hanya untuk di pidato, ketika kita bertemu dengan orang orang yang baru, kesan pertama itu perlu. Jangan terlalu banyak memberikan pandangan atau hal hal negatif yang ada di diri kita kepada orang orang yang baru di kenal. Bisa di bayangkan jika anda bertemu orang baru, berkenalan, lalu Anda berkata,"Mohon maaf nih, saya orangnya agak emosian kalo ngomong, terus saya juga orangnya gampang galauan." Tentu mesti orang yang sedang di ajak bicara akan berpikiran," Kayaknya salah deh kenalan sama ini orang."

Kesan pertama juga perlu buat Anda yang ingin berkenalan dengan lawan jenis. Pandangan buruk saat pertama kali bertemu menyebabkan pasangan menjadi ilfeel dengan Anda. Mungkin pasangan Anda justru malah berpikir Anda bukan orang yang tepat untuk di ajak berkenalan. Akan berbeda jika Anda memberikan kesan pertama yang tidak jelek dengan cara tidak menampilkan kelemahan kelemahan Anda dan memberikan kesan pertama yang positif.

Satu hal lagi, menampilkan kesan pertama yang positif  TIDAK SAMA dengan ketika Anda melakukan sebuah PENCITRAAN yang dilakukan dengan cara Anda melakukan sesuatu yang baik, bersikap seolah seperti orang yang baik tapi sebenarnya Anda tidak biasa seperti itu.
Buatlah Kesan Positif!!
Memberikan kesan pertama dengan menjadi dirisendiri akan lebih terasa bermakna dan lebih di hargai ketimbang harus berpura pura menjadi orang baik. Yang perlu di lakukan adalah tidak menampilkan kelemahan kelemahan Anda, tetapi juga tidak membesar besarkan kelebihan yang Anda miliki.  Dengan begitu, Anda akan bisa mendapatkan kesan positif di hadapan orang lain yang baik namun apa adanya. Setiap orang tentu memiliki kebaikannya masing masing bukan?

Terakhir, selamat mencoba menjadi diri sendiri yang memiliki pandangan baik, yang selalu bisa memberikan kesan positif di hadapan orang orang. Kesan terhadap orang orang di sekitar Anda akan mempengaruhi pola pikir dan mental Anda dalam menghadapi permasalahan kedepannya.

Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. Bukan bermaksud menggurui, hanya saja inginberbagi dan belajar bersama. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh