Tidak begitu asing ketika aku melihat kalender hari ini. Hmm, tanggal hari ini mungkin tanggal yang akan selalu di ingat oleh aku dan keluargaku setiap tahunnya. Bukan tanggal yang istimewa memang, tapi tanggal ini mengingatkan aku sebuah kejadian di tahun tahun sebelumnya, kurang lebih sekitar 13 Tahun yang lalu.

Saat dimana sebuah kejadian yang begitu singkat merubah suasana libur lebaran saat itu. Dimana sebuah keceriaan berubah menjadi airmata duka, hanya dalam jangka waktu semalam.

Saat itu memang aku masih seumur jagung. Baru menginjak kelas 2 SD seingatku kalau tidak salah. Masih teringat dengan jelas kejadian yang menimpa keluargaku saat itu, di malam hujan yang sangat deras, di antara petir yang terdengar saling bersahutan dan di tengah kegelapan tanpa cahaya sedikitpun. Kepanikan dan teriakan bercampur aduk saat itu. Memang bukan aku yang panik, bukan aku yang teriak. Aku hanya bisa terdiam kebingungan, di dalam kamar mbahku, di temani mbahku.

Aku mendengar tanpa melihat kejadian malam itu. Di rundung kebingungan dan ketakutan tanpa sebab. Entahlah setidaknya masih ada sedikit rasa parno ku dengan keadaan malam itu sampai saat ini.

Hingga pagi beranjak, dan mentari menampakkan sinarnya, dan berita buruk itu pun datang. Air mata mengalir menetes sedikit demi sedikit dari kedua orangtuaku. Dan kembali aku tak tahu apa yang terjadi saat itu. Setiap pertanyaan yang aku tanyakan ke mereka selalu di jawab dengan terbata bata.

Hingga akhirnya aku mengetahui apa yang terjadi, di siang itu, saat aku menuju ke rumah mbahku yang satunya, terlihat bendera kuning berkibar di sana.

Dan aku tersadar, aku kehilangan seorang adik kandungku. Padahal baru kemarin sore aku bermain dengannya, di halaman rumah mbahku. Ya, aku ingat betul setiap kejadian di tanggal itu, 13 Desember 2001. 1 Rumah berduka semua, meratapi kepergian adikku.


13 Tahun berlalu, kembali bertemu lagi dengan tanggal 13 Desember. Teruntuk adekku yang di sana, semoga engkau senantiasa di beri tempat terbaik di sana dan senantiasa di beri perlindungan selalu oleh Allah SWT. Aamiin. :) 
Tak terasa ya sudah 2 tahun aku mengabdikan diri di KMTETI. Peluh kesah canda tawa, semua sudah aku lalui. Dan tak terasa malam ini aku dan temen2 pengurus KMTETI Periode 2014 dengan resmi memulai masa demisioner, masa dimana saat ketua KMTETI baru terpilih dan masa dimana pengurus KMTETI Periode 2014 menunggu saat saat akan lengser. Tak terasa :')

Dan sembari menanti pergantian kepengurusan atau yang biasa di sebut sertijab, aku dan temen temen PH KMTETI 2014 di minta untuk membuat sebuah tulisan tentang perjalanan di KMTETI. Tulisan ini bertemakan perjalanan ataupun perpisahan. Kayaknya anak anak PH KMTETI sedang masuk masa masa melankolis deh, dimana semuanya menjadi mellow dan jadi pandai menulis :")

Ini Tulisanku, Fauzan Akbar, Kadept Akademis 2014:

Dulu
Kau asing bagiku
Dulu
Kau hanya pandangan sepintas slalu

Tapi..
Setelah kita disini
Di keluarga ini
Terciptalah kasih sayang antara kita
Kebersamaan, Kekeluargaan
Saling membantu dalam kesusahan
Canda tawa bersama

Namun
Semua itu hanya sementara
Semua itu hanya bagai mimpi di malam hari yang harus hilang ketika bangun pagi
Kini kita harus berpisah
Karena kita tak lagi bersama
Di keluarga ini, di dalam kebersamaan ini

Kenapa pertemuan harus di akhiri perpisahan
Yang akan hanya melukiskan kenangan di atas angan
Yang hanya membuat rasa perih dikala rindu
Seakan hati meberontak
Dan berteriak,
Aku rindu Kalian, kawan

Namun
Aku tau semua itu hanya sia-sia
Karna perjalanan kita tak lagi di sini
Karna masing masing dari kita berjalan sendiri sendiri

Tenanglah kawan
Aku yakin
Kemanapun kita melangkah
Meskipun langkah kita berbeda
Meskipun jalan kita tak lagi sama
Kita akan bertemu
Dalam kesuksesan yang abadi
Dalam kebanggaan dan penuh arti

Salam sukses kawan
Semoga Engkau selalu dalam Lindungan-Nya

Ini Tulisannya Reza Arkan, Ketua KMTETI Periode 2014:

Perjalanan ini dimulai dari tiga. Masa-masa menggebu dan penuh semangat. Masa-masa aku mengenalmu. Masa-masa dimana aku tertidur... dan terbangun dalam sebuah mimpi. Berjalan dalam mimpi. Tentang pembagian waktuku yang sepertiga untukmu. Tentang sisa waktuku untuk perjalananku.

Aku seperti berjalan dalam mimpi. Perjalanan sepi. Kadang aku berlari, berharap semuanya cepat selesai. Kadang aku berhenti karena lelah...  Sebelum ancang-ancang untuk berlari kembali. Namun kadang juga aku hanya berjalan pelan. Sampai pada akhirnya menembus empat. Dan menuju lima. Sekarang waktuku tinggal seperempat untukmu.

Tak terasa, akhirnya sudah saatnya berhenti pada lima. Setahun penuh, dimulai dari tiga. Rasanya... masih seperti berjalan dalam mimpi. Kadang masih terasa cepat. Kadang terasa seakan jumlah jam dalam hari melebihi 24. Kadang... ah sudahlah.

Dan sudah saatnya kembali. Dari lima menuju enam. Dua kali kelipatan tiga. Dua kali lebih kuat daripada tiga. Aku terbangun dari mimpi, hanya untuk bermimpi mimpi yang selanjutnya. Karena di akhir perjalanan selalu ada awal yang baru. Dimulai esok. Dimulai nanti. Dimulai sekarang. Dimulai kapanpun engkau dan aku siap.Dan sekarang dari enam sampai delapan. Hingga tak terhingga. Sebuah perjalanan baru menanti.

Ini Tulisannya Handika Putra, Kadept Electropreneur 2014:
aku bukan ikan
yang berenang mengikuti arus
aku bukan layangan
yang terbang kemanapun angin berhembus

aku adalah karang
yang bertahan walaupun ombak selalu menerjang
aku adalah bendera
yang tetap berkibar walaupun matahari membara

butuh niat yang terpatri dalam hati
untuk menjalani apa yang ku yakini
butuh lebih dari sekedar kata kata
untuk merubah mimpiku menjadi nyata

memang tidak mudah
memang bukan perkara remeh
karena berjuang adalah awal perjalanan
karena berjuang takan pernah sia sia

doa adalah bekalku
layaknya air di sahara padang pasir
usaha adalah kendaraanku
layaknya kapal di tengah lautan

kini aku pun siap
berjalan terus untuk satu tujuan
mencoba tanpa putus asa 

kini aku pun siap
bagaikan api di ujung anak panah
yang akan tetap menggelora kemanapun panah melontarkannya

Itu dulu aja tulisan dari temen temen PH KMTETI 2014. Melankolis? Biarlah. Masing masing dari kita sedang merasakan arti yang luar biasa dari yang namanya keluarga, Merasakan masa masa ketika harus berpisah dengan keluarga yang sama sama merasakan senang sama senang dan susah sama susah.
Terima Kasih PH KMTETI 2014 atas pengalaman luar biasanya :)
Abis buka file file lama dan menemukan sebuah dokumen yang berisi puisi yang lumayan ngenes jika melihat kondisiku saat itu. Haha. Dokumen tentang puisi ini di simpan di flashdisk pas zaman SMA. Ya mungkin pas zamannya mengagumi dari jauh gitu lah sama seseorang. Jadi dulu aku juga layaknya manusia pada umumnya, bisa suka sama lawan jenis. 

Dan respon pertama ketika membuka puisi ini adalah tertawa. Ternyata aku pernah sealay itu. Kata kata di puisinya itu yang mungkin ngebuat aku berpikir, dulu aku galaunya parah banget yak?

Mengagumi Tanpa Mencintai (2011)

Bagai Laksana Matahari
Tak tersambut mentari
Hati ini
Tersajut kian merintih

Dirimu yang ku kagumi
di tiap tepi dan relung
perisai ini

Namun kau toleh cinta dan perasaan ini
Tanpa sedikitpun, kata dan rasa
Hingga yang terasa
Hanya perih yang merasuk di Jiwa

Ingin rasanya ku jaga
dan kutata seperti mahkota
sampai semuanya kan tiba
di hati sang pujaan cintaku ini

Namun kini ku mengerti
Apa yang telah ku ingini
Seperti udara
Berlalu begitu saja

Apa yang ku kagumi
Hanyalah sebatas mimpi
berselimut bayang
tak berbalas kasih..
"Jika seorang memberikan perhatian dan kepedulian kepadamu, jangan pernah bosan, apalagi mengabaikannya, karena suatu saat perhatian kecil itu akan kamu rindukan ketika kamu merasa kesepian" -Mahasiswa JTETI UGM 2012, 19 Tahun

Eits jangan di salah artikan dulu ya kenapa aku mengambil quotes itu ya. Ini bukan berarti harus perhatian dalam hal yang cinta cintaan loh. Karena faktanya banyak orang yang sering mengabaikan perhatian perhatian dari orang orang di sekitar kita. Banyak orang orang yang masih menyiayiakan perhatian dan kepedulian dari orang lain.

Dan buat yang baca post ini dan merasa kalau kalian sadar sebenernya banyak yang perhatian dan peduli, jangan di siasiakan itu. Maksud dan tujuan seseorang perhatian itu baik kok Insha Allah. 

Kalau buat yang cinta cintaan, juga jangan di siasiakan perhatian dari orang lain. Siapa tau dari perhatian yang kecil bisa jadi membekas di hati. Aw aw. Siapa tau lho ya. Haha.
Ramai. Di dalam ruangan ini, ruangan berukuran sekitar 4x4 meter, ruangan yang biasa di pakai untuk tempat berkumpul para aktivis jurusan. Orang orang berlalu lalang, bercengkrama, teriak teriak, bahkan ada yang hanya mampir untuk sekedar memejamkan matanya sejenak. Di antara hiruk pikuk orang orang itu, aku hanya duduk diam, di sudut ruangan itu, menyumpal telinga dengan headset kesayangan dan di temani oleh laptop serta sembari mendengarkan lagu lagu yang menenangkan. 

Sesekali aku melihat sekitar, mengamati teman temanku yang pada sibuk dengan kesibukannya masing masing. Rapat, mengerjakan tugas, tidur. Ya biarlah mereka menikmati sore ini dengan caranya mereka. Aku? Hanya duduk manis, menulis di laptop sambil merasakan dan menikmati suasana sore itu.

Aku hanya berusaha fokus dengan apa yang aku tulis sore itu. Sembari mengingat ingat apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Terlalu banyak yang aku pikirkan, terlalu banyak yang aku permasalahkan, terlalu banyak yang aku khawatirkan dan terlalu banyak yang aku takutkan. Sore itu aku bukanlah aku yang seperti biasanya. Sore itu aku seperti menjadi pribadi yang berbanding terbalik 180 derajat. Bukan seorang yang ceria, bukan seorang yang gampang tertawa dan bukan seorang yang bisa membuat orang lain ceria dan tertawa.

satu dua orang sesekali bertanya ke aku, kenapa aku seperti itu sore itu. Aku pun hanya membalas dengan senyuman, dengan maksud berterima kasih sudah berusaha peduli. Setidaknya. 

RIntik Hujan
Tak lama hujan pun turun, dengan derasnya. Membuat suasana sore itu semakin dingin dan sejuk. Derasnya hujan membuat aku semakin larut dengan pikiran pikiranku. Tenggelam dalam segala pikiran dan perasaan yang terlintas saat itu. Random, mungkin kata itu yang tepat buatku saat itu.

Karena hujan di sore itu, aku tersenyum, aku terdiam. Aku mengingat, Aku merenung, Aku menerawang. Aku berasumsi, aku berandai, aku berkahayal dan aku berharap. Hujan menyadarkanku akan banyak hal, masih banyak yang harus tak selesaikan, masih banyak yang harus aku tuntaskan, masih banyak cita cita yang harus aku kejar. Cita dan Cinta