Generasi Muda Untuk Indonesia Yang Lebih Baik
(Fauzan Akbar - Teknik Elektro UGM 2012)

Miris, Mungkin kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Di saat negara negara lain sudah banyak melakukan perubahan perubahan signifikan untuk memajukan negaranya, kita masih jalan di tempat dan bergelut dengan persoalan dan konflik yang senantiasa melanda negeri tercinta. Kebobrokan di banyak sektor, kemiskinan, kesenjangan status sosial masih menjadi trending topic untuk negara Indonesia sampai saat ini. Apalagi jika kita lihat beberapa peristiwa yang terjadi akhir akhir ini, seolah semakin menampakkan citra negara Indonesia yang bisa di bilang semakin mengkhawatirkan.
Sangat banyak persoalan yang sedang di hadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, persoalan persoalan yang justru membuat Indonesia menjadi bangsa yang lemah, yang kehilangan arah dan tujuan awal dari berdirinya bangsa ini. Contoh dari persoalan polemik yang paling hangat adalah Korupsi. Korupsi adalah salah satu contoh permasalahan nyata yang sedang terjadi saat ini. Data dari Transparancy Internasional Indonesia (TTI) menyebutkan bahwa pada tahun 2012, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia turun peringkat dari 110 menjadi 118 dari 176 negara dengan skor 32, sejajar dengan Republika Dominika, Ekuador, Mesir dan Madagaskar. Sungguh ironi melihat negeri Indonesia tercinta ini, yang memiliki beragam keunikan keunikan yang ada didalamnya, namun memiliki petinggi petinggi yang suka menghambur hamburkan uang negara.
Hukum juga menjadi permasalahan yang cukup mencolok di negeri ini. Penegakan hukum di Indonesia masih terbilang sangat lemah. Palu hukum masih dapat di beli dengan uang dan kekuasaan. Prinsip “Yang kaya yang selamat, yang miskin yang melarat” masih sering terlihat dalam upaya upaya penegakan hukum di Indonesia. Pejabat tinggi penghambur uang rakyat hanya di hukum 2 tahun penjara, sementara maling ayam justru di hukum puluhan tahun penjara. Adilkah? Mungkin hanya bagi para hakim pengambil keputusan itu yang merasa adil.
Berbicara mengenai korupsi dan lembaga penegak hukum, baru baru ini sedang terjadi kisruh antara 2 lembaga penegak hukum di Indonesia, yaitu KPK dan Polri. Kisruh yang justru menguatkan pendapat bahwa hukum di Indonesia masih lemah, masih bisa di beli oleh orang orang tertentu dan masih bisa di atur oleh orang orang yang punya kekuasaan. Kisruh yang memunculkan banyak pertanyaan di masyarakat, bagaimana hukum di Indonesia mau lebih baik kalau antar lembaga penegak hukumnya saja justru saling serang.
Selain topik topik di atas, tentu masih banyak lagi permasalahan permasalahan krusial lainnya yang sedang dialami Indonesia seperti angka kemiskinan yang semakin merangkak naik, permasalahan infrastruktur, Pelayanan fasilitas publik yang tidak kunjung membaik dan masih banyak lagi. Semua masalah ini sebenarnya bermuara ke satu pertanyaan, yaitu dimanakah peran pemimpin atau negarawan yang seharusnya memiliki kepekaan sosial dan mampu membawa perubahan menuju Indonesia ke arah yang lebih baik serta sesuai dengan cita cita para pendiri dahulu.
Pemimpin atau bisa juga disebut negarawan memiliki andil besar terhadap segala hal yang terjadi di bangsa ini. Baik buruknya bangsa ini tidak hanya di tentukan oleh masyarakatnya saja, tapi juga bergantung kepada pimpinan pimpinan dan politisi yang memegang amanah dari rakyat untuk membawa negara Indonesia ke arah yang lebih baik. Sayangnya saat ini masih banyak pimpinan dan politisi yang masih jauh dari yang di harapkan sebagian besar masyarakat Indonesia serta masih jauh dari cita cita dan tujuan negara ini.
Pada saat pesta demokrasi terbesar 5 tahunan di Indonesia yang baru saja berlangsung tahun lalu, sering kita lihat poster, baliho dan bendera para politisi terpampang di seluruh penjuru daerah Nusantara.  Promosi besar besaran yang di ikuti dengan janji janji dari para politisi yang hendak beradu nasib dengan mencari suara rakyat. Sebagian dari mereka berkoar dengan mengatas namakan perwakilan rakyat dan membawa janji janji politik yang bisa menggugah hati rakyat agar bisa memilihnya. Tak jarang para calon politisi tersebut rela menghabiskan uang hingga puluhan, ratusan juta bahkan milliaran untuk biaya kampanye mereka, hanya demi sebuah mendapatkan suara rakyat. Selain itu, banyak juga politisi yang menghalalkan banyak cara demi mendapatkan kekuasaan di tingkat pemerintah.
Politisi yang seperti ini yang justru akan merusak dan semakin menjauhkan Indonesia dari cita cita utamanya. Politisi yang bermental uang seperti ini pada umumnya memiliki jiwa kepemimpinan yang lemah, sehingga tujuan dia mendapatkan kekuasaan adalah demi mendapatkan ketenaran sebagai politisi ternama namun tidak mementingkan visi dan misi nya yang di koar koarkannya dahulu. Janji pun tinggal lah janji semata, hanya di ucapkan untuk sekedar menarik simpati rakyat saja namun realisasinya tidak ada. Pemimpin politis yang seperti ini pada umumnya mengambil kebijakan hanya untuk penyelesaian jangka pendek, reaktif kepada permasalahannya dan kepentingan kelompok tertentu, khususnya partai pengusung atau koalisi pendukung. Kebijakan kebijakan yang di ambil bukan berdasarkan pada kondisi yang ada, bukan pula berdasarkan hasil analisis yang tepat dan akurat, namun lebih didasarkan pada kepentingan pribadi dan golongannya ketimbang kepentingan masyarakat.
Akibatnya, rakyat yang menanggung semua beban dari keputusan keputusan yang tidak bijak tersebut. Ketika rakyat mengharapkan sebuah perubahan nyata menuju Indonesia yang lebih baik dari pimpinan dan politisi yang terpilih, namun yang ada justru rakyat hanya di buat semakin tersiksa dan menderita dengan keputusan keputusan tersebut. Hal seperti ini yang menjadi alasan utama mengapa sebagian besar rakyat Indonesia bersikap sinis dan tidak percaya kepada pemerintahan. Kewibawaan pemerintah turun dimata rakyat. Masyarakat pun memilih caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah ketimbang menuruti kebijakan pemerintah yang di anggap tidak tepat.
Jika hal yang seperti ini terus di pertahankan, lantas mau menjadi apa negara Indonesia di masa yang akan datang. Negara Indonesia tidak akan maju jika pemerintah dan rakyatnya tidak saling bersinergi dan saling bahu membahu.  Indonesia akan tetap senantiasa terbelakang, bobrok dan tertinggal di banding negara negara lainnya. Indonesia butuh orang orang yang bisa merubah keadaan dan kondisinya saat ini. Bisa dikatakan pula Indonesia sedang krisis negarawan dan krisis orang orang yang berjiwa kepimpinan tinggi. Indonesia rindu akan pemimpin yang visioner, berjiwa sosial tinggi dan yang peduli kepada Tanah air.
Hal yang paling di butuhkan saat ini adalah generasi muda penerus bangsa yang siap dan memiliki visi yang kuat untuk membangun Indonesia serta mengembalikan Indonesia sesuai cita citanya. Generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi serta peduli dengan keadaan Indonesia saat ini. Seorang negarawan sejati harus bisa menyatu dengan rakyat, mendengar suara rakyat dan ikut tumbuh bersama rakyat, bersedia membantu dan melayani rakyat tanpa berharap untuk memperkaya diri. Jika generasi muda saat ini memiliki sifat sifat demikian, pasti lah akan terbentuk generas generasi penerus yang solid, yang akan membawa Indonesia kemabali pada tujuan awalnya.
Untuk menjadikan generasi muda yang siap merubah Indonesia, tidak mungkin di lakukan dalam waktu semalam suntuk. Masa masa di kampus merupakan saat yang tepat untuk mengasah jiwa negarawan pada generasi muda. Kondisi di kampus yang banyak tekanan dan permasalahan akan menjadi keuntungan sendiri untuk para generasi muda dalam melatih sifat sifat negarawannya. Lewat organisasi dan aktivitas di kampus, mahasiswa di latih kemampuan berpikir dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan yang ada. Di sini pula, para mahasiswa ini terbiasa dengan pemikiran yang mengedepankan kepentingan rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat dan berjuang dengan penuh totalitas tanpa pamrih.
Dengan hasil proses pembentukan di kehidupan kampus serta kebiasaan berpikir yang selalu berorientasi kepada kepentingan rakyat di harapkan terbentuklah generasi generasi muda yang memiliki jiwa negarawan sejati dan yang turut ikut aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sebuah negara. Generasi muda yang nantinya akan memegang peran penting dalam penentuan sebuah keputusan untuk negara. Generasi muda yang seperti inilah yang di dambakan Indonesia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Tinggal yang perlu ditekankan adalah kesadaran diri masing masing generasi muda untuk memiliki jiwa nasionalis. Karena faktanya masih banyak generasi muda yang terjebak dengan pola pikir yang salah. Pola pikir yang bersifat apatis dan tidak peduli kepada negara Indonesia. Memang untuk menjadi seorang negarawan muda di butuhkan proses yang panjang dan kemauan yang kuat. Sudah seharusnya generasi muda sebagai orang orang yang mampu mengubah Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik lagi, menuju Indonesia yang sesuai dengan cita cita nya dahulu. Jika bukan generasi muda, lantas harus siapa lagi yang memiliki jiwa muda dan semangat patriotisme untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju. Masa depan Indonesia ada di tangan pemuda. Jika pemuda tidak berinisiatif untuk bergerak, maka Indonesia akan tetap menjadi negara yang miris yang memiliki kebobrokan yang menjadi jadi.
Akhirnya setelah sekian lama diam dan tidak pernah bersentuhan dengan blog yang satu ini, malam ini saya kembali ke blog saya yang udah hampir berumur 6 Tahun. Waw tak terasa sudah lama sekali berkutat dengan blog ini. Blog yang (tak sengaja) tercipta karena paksaan untuk membuat blog pada saat matapelajaran TIK di SMP dahulu. Aku bahkan tak berpikir bahkan bisa mempunyai blog, menulis di sini, bercerita dan berbagi pengalaman pengalamanku. Aku pun juga tak menyangka sampai saat ini aku masih bisa senantiasa menulis, konstan untuk mengupdate tulisan tulisanku, ya meskipun sebulan sekali atau bahkan 2 bulan sekali, tapi setidaknya aku masih memiliki rasa senang jika bertemu dengan blog ini.

Lantas aku iseng membuka tulisan tulisan lamaku, tulisan ketika zamannya aku SMP dan SMA. Satu hal yang bisa membuatku geleng geleng kepala, ternyata aku pernah mengalami masa masa sealay itu. Masa masa dimana kamu senang menyingkat dan mengganti kata kata, Begitu menjadi gicuh, terima kasih menjadi thxx, dan huruf yang kecil bisa menjadi besar dengan sendirinya. Ya itu masa masa lalu, masa masa suram ketika aku senang menulis tetapi belum bisa menyusun struktur kata kata yang baik dan benar. 

Seiring berjalannya waktu pun apa yang di tulis menjadi lebih sedikit berkualitas. Lebih sedikit enak untuk di baca dan lebih sedikit enak untuk di lihat dan tidak menimbulkan opini buruk. Sedikit demi sedikit, tulisan itu pun berubah dari yang awalnya berisi celotehan yang tidak tersusun dengan rapi menjadi mulai rapi sedikit demi sedikit. Yang tadinya cuma nulis 4 kata di enter dan sekarang bisa nulis berparagraf. Awalnya terasa berat namun lama lama jadi terbiasa untuk menulis dengan rapi.

Dari yang awalnya segala macam curhatan keluar semua di blog dan kini berusaha untuk menyaring dan sedikit mengurangi curhatan. Sahabatku pernah berkata, "Galau di media sosial ngga bikin kamu keren" Perkataan yang sungguh membuatku berpikir, lalu berkaca diri. Memang banyak julukan julukan yang kurang mengenakan yang melekat di diri. Sayangnya bukan julukan yang bagus. Tukang galau, Alay, dan semacamnya pernah menyandang di aku. Bahkan ketika aku lagi nggak galau pun tetap di bilang galau, di bilang bercanda pun di bilang galau. Lalu aku berkesimpulan, apa yang kamu perbuat di hadapan orang lain, itulah yang akan kamu dapatkan. Kamu senengnya update status galau, tiap hari tiap waktu, ya maka wajar lah ketika orang memanggil kamu "The Galauers", Meskipun kamu bilang nggak. Percayalah, terkadang pencitraan itu perlu.

Oke dan tak terasa sekarang aku bisa menulis dengan lebih menyenangkan. Bisa mengekspresikan dengan menjauhkan unsur unsur alay itu. Atau dengan kata lain sudah menemukan kenikmatan sendiri dalam menulis. Harapanku aku bisa kembali menulis lagi dan berbagi cerita cerita yang semoga bisa membuat yang baca menikmati setiap kata kata yang aku tulis. 

Sekian postingan pembuka kali ini. Salam semangat! :)
[15 Desember 2014]
Pagi ini di mulai dengan melihat buku jurnalku. Sejenak ku pandang jadwalku hari ini. Padat? Oh ternyata udah nggak. Tak terasa. Perasaan dulu sering banget komentar dan nggerutu "Kok jadwalnya penuh terus?". Sekarang tak terasa sudah menikmati masa masa Tidak Sibuk Organisasi

Halo perkenalkan, nama saya Fauzan Akbar, mahasiswa prodi Teknik Elektro UGM angkatan 2012. Aku uda semester 5 dan bentar lagi sudah semester 6, sudah melewati masa produktif aktif di kegiatan kegiatan organisasi kampus. Mungkin bisa di bilang sudah menjadi sesepuh di organisasi, tapi akunya belum sepuh sih. Ini ceritaku, perjalanan keorganisasianku kurang lebih 2 tahun selama aku aktif di kegiatan mahasiswa baik tingkat Jurusan maupun Fakultas.

Oktober 2012, ketika waktu aku selesai melaksanakan FDK 2012 sebagai peserta (FDK adalah acara Orientasi pengenalan Jurusan), secara beruntung aku di terima sebagai staff di KMTETI. Staff Departemen Akademis Angkatan 2012. Sebuah langkah awal dimana aku akan memulai untuk meniti karir di KMTETI. Tapi waktu itu aku hanya sebagai staff. Dan secara kebetulan saat itu aku tidak mendapatkan kerjaan apapun di sana. Tapi setidaknya aku mendapatkan 2 hal yang cukup besar di sini, Pengalaman dan Keluarga.

Lalu mulailah aku mencoba sebuah peruntungan dengna mengikuti kepanitian besar. Saat itu aku di amanahi sebuah kerjaan di sebuah acara yang cukup besar di JTETI, FDK 2013. Oke, Saat dimana aku memulai pertaruhan waktuku dengan menjadi Tim Acara tahun lalu. Kenapa aku bilang pertaruhan waktu? Hampir setiap minggu di habiskan untuk rapat rapat dan rapat. Menyusun setiap acara dan segalanya untuk mempersiapkan kedatangan adek baru, JTETI angkatan 2013. Setidaknya hal ini di lakukan hampir selama 7 Bulan lamanya, dari bulan Mei 2013 - November 2013, dari menyusun rancangan awal hingga pelaksanaan yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan lamanya. Saat itu pula aku masih di posisi sebagai adek angkatan. Masih ada angkatan 2011 yang membimbing di kepanitiaan ini.
Sie Acara FDK 2013 (Kurang 2 orang)
Sie Acara FDK 2013, Feels like a Superstar
Akhir November, dimana aku maju sebagai calon ketua KMTETI untuk periode tahun 2014. Sebuah tantangan yang harus aku lalui. Menyusun visi misi, menghadapi fit and proper test dan kampanye. Memang hanya 2 minggu aku melaksanakan hal hal tersebut.

"Mau TETI lebih satu? Pilih Nomor 1"
Tetep menjadi bagian dari PH KMTETI 2014
Tapi itu jujur sangat banyak memakan waktuku. Karena sebuah tujuan yang benar benar bermanfaat dan baik tidak mungkin terjadi hanya dalam satu malam. Meskipun di akhirnya akupun tidak jadi ketua KMTETI, tapi aku belajar banyak bgaimana cara mengatur diri ketika menghadapi tekanan yang ada.

Technocorner 2014, sebuah big event dari KMTETI yang berkaitan di bidang teknologi. Di event tersebut aku di amanahi menjadi Seksi Dana Usaha. Kepanitiaan ini berlangsung dari November 2013 hingga April 2014. Di awal sempat merasa, kerjaanku tak akan sesulit yang aku kira. Ternyata itu semua palsu. Berkunjung ke banyak perusahaan untuk "mengemis" uang, menyusun strategi agar bisa mendapatkan uang dan menggerakkan serta mengatur panitia untuk mencari dana mandiri. Aku ingat, dulu dana mandiri di cari dengan menjual bunga di KM 0 dan Alkid dan kebetulan aku yang menjadi koordinator itu. Sebuah pengalaman yang luar biasa bisa berkecimpung dalam kepanitiaan yang hebat dan fenomenal seperti ini.
Jual Bunga untuk Technocorner di KM 0

Bulan Mei 2014, dimana aku mendapatkan amanah baru di sebuah kepanitiaan besar lagi. Kali ini kepanitiaan yang aku ikuti bukan tingkat Jurusan, tapi tingkat Fakultas. Yap, menjadi panitia PPSMB Fakultas (ini semacam pengenalan Fakultas untuk mahasiswa baru Teknik 2014) dan kali ini aku menjadi PEMANDU. Tugas dari pemandu sendiri adalah memandu adek adek mahasiswa baru Teknik 2014 dai kegiatan Pra PPSMB sampai Pasca PPSMB. Dan perjuangan untuk menjadi seorang pemandu tidaklah mudah. Para pemandu harus melewati masa Training dan Simulasi, dan itu semua di laksanakan pada saat liburan pergantian tahun ajaran. Dan pemandu harus mengorbankan waktu liburan, dari jatah sekitar hampir 2 bulan menjadi hanya sekitar 3 minggu. Sedih? Sedikit, eh agak banyak ding.

PPSMB Prisma 2014
PPSMB Prisma 2014 - Unit 6
PPSMB Prisma 2014 - Unit 6
Tapi Semua itu terbayar lunas dengan apa yang di dapat. Awalnya memang susah ketika harus membimbing adek adek baru untuk bisa lebih mengenal Teknik dan membentuk karakter mereka agar sesuai dengan visi misi dari PPSMB itu sendiri. Hingga akhirnya aku mendapatkan banyak hal. Pengalaman, Keluarga baru, Adek adek baru, Teman Teman baru. Mungkin ini adalah salah satu amanah terbesar yang pernah aku rasakan, ketika di berikan tanggung jawab untuk bisa membawa adek adek Pandu untuk ke arah yang lebih baik. Sebuah tanggung jawab yang tidak cuma berakhir ketika acara PPSMB ini selesai, tapi berlanjut terus hingga waktu yang tak terhingga. Amanah yang besar namun aku sangat senang bisa mengemban amanah ini.

Sebagian dari Panitia FDK JTETI 2014
Di sela sela kesibukan sebagai panitia PPSMB, aku juga mengemban amanah FDK (lagi). Kali ini aku kembali menjadi Tim Acara FDK 2014. Tak jauh berbeda dengan FDK sebelumnya, namun di sini aku merasakan pressure kerja yang lebih. Mungkin karena sekarang aku menjadi kakak angkatan dan sebagian besar Koordinator juga di pegang angkatanku. Selain itu jumlah peserta yang lebih banyak juga menuntut Tim acara lebih kreatif dalam menyusun acara. Sangat melelahkan, debat di sana dan disini, brainstroming demi sebuah acara FDK 2014 yang bermanfaat dan menghindari yang namanya Perploncoan.
Sebagian dari Tim Acara FDK 2014
Yang lain kerja, aku istirahat sebentar
Tim Acara FDK 2014 - Olahraga Bareng
Tim Acara FDK Fullteam -
Survey Jogja Discovery - Jalan kaki dari Kampus ke Alkid
Tim Acara FDK Makan makan + Last Gathering
Sebuah perjalanan yang cukup panjang. Hampir sekitar 6 bulan pula bekerja di kepanitiaan ini. Di tambah lagi masih harus mengurusi hal hal lain yang juga sama sama penting. Selain itu masih pula mengurusi kegiatan kuliah yang terpenting dan tidak boleh di tinggalkan. Kemampuan buat ngatur waktu sangat di butuhkan di sini. Aku berusaha buat nggak meninggalkan satu amanahku. Berat memang, tapi di situlah tantangannya. Aku senang menghadapi tantangan tantangan seperti itu. Melatih diri untuk semakin terbiasa dalam pengaturan waktu.


Dan ada satu lagi amanah yang aku pegang paling lama, yaitu menjadi Ketua Departement (Kadept) di Departemenku sendiri, Departemen Akademis. Menjadi Kadept berarti harus memiliki pola pikir yang berbeda ketika kemaren menjadi seorang staff. Sebua kebingungan tersendiri awalnya ketika selama 1,5 tahun sebelumnya aku hanya menjadi staff gabut atau mungkin bisa di bilang anggota pasif dan sekarang di berikan amanah dari Ketua KMTETI terpilih untuk membawa Departemen Akademis ke arah yang lebih baik sesuai visi misinya.

Akademis di Kepengurusan Tahun 2013 - Futsal Barenng
Aku dulu mempunyai misi untuk di Departemen Akademis, menjadikan Departemen terinspiratif untuk KMTETI, baik dari prokernya, pandangan orang orang JTETI sendiri maupun dari kekeluargaan internalnya. Yang terjadi saat itu adalah Departemen ini sering kali di cap sebagai departemen yang kaku, yang paling jarang kumpul dan beberapa tanggapan miring lainnya.

Departemen Akademis Periode 2014 - Awal kepengurusan
Dan setelah hampir kurang lebih 1 tahun di sini, aku berhasil merubah beberapa mindset. Aku merasakan sebuah perbedaan yang amat mencolok ketika aku menjadi seorang staff dan sekarang ketika menjadi seorang kadept. Sebuah kekeluargaan yang lebih terasa di bandingkan sebelum sebelumnya. Setidaknya tidak ada kata kata lagi yang mengatakan, Departemen Akademis Departemen kaku. Meskipun sebenernya masih ada beberapa kekurangan yang ada dan tujuan awalku juga tidak tercapai, menjadikan Departemen Akademis Departemen terinspiratif. Semoga kadept berikutnya bisa menjadikannya Akademis Terinspiratif hahaha.

Semester 5 kemarin masa dimana aku menjadi orang yang terlalu banyak menerima amanah amanah di kegiatan besar. PPSMB Fakultas, FDK 2014, Departemen Akademis KMTETI, PH KMTETI 2014. Ya setidaknya ada 4 amanah besar saat itu, di samping tuntutanku sebagai mahasiswa yang harus mengejar prestasi akademik.


Departemen Akademis Periode 2014 - Akhir kepengurusan
About Passion
Merasa capek? Tentunya. Merasa lelah? Pasti. Tapi aku sama sekali ngga merasakan jenuh maksimal, pengen melarikan diri dari salah satu amanah tersebut ataupun justru pengen kabur. Kuncinya satu, PASSION. Ketika kamu merasa menikmati dalam pekerjaanmu, maka kamu tidak akan merasakan yang namanya kejenuhan. Ketika kamu memiliki passion atau menjiwai apa yang kamu lakukan, maka kamu akan tidak merasakan kegiatan itu memakan waktu kosongmu. Passion ku, ya dengan kegiatan kegiatan seperti itu. Mungkin bagi sebagian orang tidak menyukainya, tapi aku sangat menyukai melakukan kegiatan itu, berorganisasi.
"Just find your passion"

So, do what you love and love what you do and you will success.



Dan akhirnya semua kegiatan yang saya lakukan di 2 tahun pertama kuliah pun telah menjadi serpihan serpihan kenangan yang bakal tersimpan di memori otak. Masa masa organisasi sebagai orang sok sibuk mungkin sudah selesai. Kenapa ada kata mungkin? Karena aku ngga tau apakah di tahun 2015 ini beneran bisa santai atau ngga sibuk. Atau justru malah ada hal hal yang bakal lebih menyibukkan? Entahlah. Yang jelas, selamat datang di masa masa akhir kuliah, terutama buat yang angkatan 2012. Kerja Praktik, KKN, Skripsi, Pendadaran dan di tutup dengna Wisuda. Tinggal bagaimana cara terbaik untuk menutup perjalanan kuliah ini.




Oke sekian postingan panjang saya kali ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Buat yang baca, saya minta doanya juga biar di mudahkan di akhir akhir perjalanan kuliah saya ini. Semoga saya dan teman teman saya bisa menyelesaikan kuliah tepat sesuai waktunya. Sekian kurang lebihnya mohon maaf. Salam Inspiratif! :D

 Selalu meminta pertolongan Allah untuk setiap langkah yang kita ambil











"Kesan Pertama Menciptakan Kesan Terakhir" - R.L Shook

Kata kata tersebut saya dapat ketika sedang membaca sebuah buku bestseller karya Sulaiman Budiman yang berjudul Kita Harus Telanjang, Lebih Berani Menertawakan Diri Sendiri. Sebuah karya yang isinya mengajak kita untuk lebih percaya kepada diri sendiri, lebih percaya kepada potensi yang ada di dalam diri kita serta bisa memotivasi diri sendiri untuk membuat sebuah perubahan besar dalam diri.

Buku KITA MESTI TELANJANG karya SULAIMAN BUDIMAN
Ada sebuah bab yang cukup menarik untuk saya baca dan dalami, mengenai hal hal yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah kesan pertama dalam sebuah pembicaraan. Dalam tulisannya di gambarkan sebuah cerita sebagai berikut:

Bayangkan saat ini Anda sedang berada di sebuah pesawat yang tengah bersiap siap untuk membawa Anda dan para penumpang ke tempat tujuan. Lalu, kapten pilot pesawat terbang tersebut berdiri di hadapan penumpang dan berkata."Selamat pagi saudara saudara sekalian, selamat datang di pesawat GatotKaca dengan nomor penrbagnan GTKC-274 tujuan Makassar. Perkenalkan saya Heri Susanto selaku kapten pilot dalam penerbagnan kali ini. Saya di bantu oleh co-pilot Bambang Sumardi dan empat pramugari yang bersiap melayani Anda selama perjalanan ini berlangsung. Sebelumnya saya mohon maaf jika selama penerbangan ini terjadi kekurangnyamanana atau ada kendala teknis yang tidak kita harapkan. Mohon maklum, penerbangan ini merupakan penerbangan perdana bagi saya setelah lulus dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug. Selamat menikmati penerbangannya."

Bagaimana perasaan kalian jika di awal penerbangan kalian di berikan "sambutan" seperti demikian? Pastilah kalian akan merasa takut, panik, stress takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan. Mungkin bahkan sebagian dari kalian sudah ada yang menjerit histeris, sudah beristigfar berkali kali atau bahkan ada yang mendatangi ruang pilot, mendobrak pintunya dan berkata," Turunkan kami sekarang juga."

Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah di antara kita semua selalu menaiki pesawat terbang yang selalu di kemudikan oleh pilot professional? Apakah yakin kita selalu naik pesawat terbang yang tidak pernah di kemudikan oleh pilot pemula? Pastilah secara tidak sadar kita mungkin pernah menumpang pesawat yang di kemudikan oleh pilot pemula dan kita sama sekali tidak merasakan ketakutan yang berarti. Kok bisa?

Masalahnya bukan seberapa takut atau tidak takutnya, tapi karena si Pilot tidak memberitahu apakah ia Pilot pemula atau Pilot Profesional..

Lihat dari contoh cerita di atas, dapat di lihat bahwa Kemampuan memberikan kesan pertama kepada audience mempengaruhi pemikiran pendengar/audience kepada pembicara. Hal ini juga berlaku untuk para orang orang yang berpidato atau memberikan sambutan di depan orang banyak. Masih banyak dari sebagian orang berasumsi bahwa memberitahukan kelemahan di awal pidato akan membuat para audience memahami kondisinya sehingga jika terjadi kesalahan nanti, sudah akan di maklumi.

Selamat pagi para audience sekalian. Saya mohon maaf sebelumnya jika nanti selama saya berpidato, saya terdapat kesalahan berkata kata, pidatonya terlalu membosankan atau justru malah membuat Anda tertidur.

Yang ada di mindset audience justru sudah berpikir bahwa selama pidato nanti akan terdapat kata kata yang salah serta akan membosankan hingga membuat pendengar tertidur. Yang terjadi, justru pendengar lebih banyak yang bosan dan mungkin ada yang justru sudah merendahkan pembicaranya terlebih dahulu. Akan berbeda jika permohonan maaf itu di sampaikan di akhir sebuah pidato atau sambutan.

Berkenalan Dengan Orang Lain
Tidak hanya untuk di pidato, ketika kita bertemu dengan orang orang yang baru, kesan pertama itu perlu. Jangan terlalu banyak memberikan pandangan atau hal hal negatif yang ada di diri kita kepada orang orang yang baru di kenal. Bisa di bayangkan jika anda bertemu orang baru, berkenalan, lalu Anda berkata,"Mohon maaf nih, saya orangnya agak emosian kalo ngomong, terus saya juga orangnya gampang galauan." Tentu mesti orang yang sedang di ajak bicara akan berpikiran," Kayaknya salah deh kenalan sama ini orang."

Kesan pertama juga perlu buat Anda yang ingin berkenalan dengan lawan jenis. Pandangan buruk saat pertama kali bertemu menyebabkan pasangan menjadi ilfeel dengan Anda. Mungkin pasangan Anda justru malah berpikir Anda bukan orang yang tepat untuk di ajak berkenalan. Akan berbeda jika Anda memberikan kesan pertama yang tidak jelek dengan cara tidak menampilkan kelemahan kelemahan Anda dan memberikan kesan pertama yang positif.

Satu hal lagi, menampilkan kesan pertama yang positif  TIDAK SAMA dengan ketika Anda melakukan sebuah PENCITRAAN yang dilakukan dengan cara Anda melakukan sesuatu yang baik, bersikap seolah seperti orang yang baik tapi sebenarnya Anda tidak biasa seperti itu.
Buatlah Kesan Positif!!
Memberikan kesan pertama dengan menjadi dirisendiri akan lebih terasa bermakna dan lebih di hargai ketimbang harus berpura pura menjadi orang baik. Yang perlu di lakukan adalah tidak menampilkan kelemahan kelemahan Anda, tetapi juga tidak membesar besarkan kelebihan yang Anda miliki.  Dengan begitu, Anda akan bisa mendapatkan kesan positif di hadapan orang lain yang baik namun apa adanya. Setiap orang tentu memiliki kebaikannya masing masing bukan?

Terakhir, selamat mencoba menjadi diri sendiri yang memiliki pandangan baik, yang selalu bisa memberikan kesan positif di hadapan orang orang. Kesan terhadap orang orang di sekitar Anda akan mempengaruhi pola pikir dan mental Anda dalam menghadapi permasalahan kedepannya.

Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. Bukan bermaksud menggurui, hanya saja inginberbagi dan belajar bersama. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.
Wassalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh
Butuh Inspirasi? Masih ragu buat mengambil keputusan mau kuliah dimana?
Nih tak kasih link, isinya anak anak yang dengan senang berbagi cerita dan kisah nya waktu dulu, ketika mereka merasakan yang namanya ketidak pastian dan kebimbangan dalam memilih selama SNMPTN. Ketika mereka merasakan kebingungan harus mengambil langkah seperti apa. Dan sekarang, mereka telah menjadi sukses di bidangnya masing masing, survive dari segala permasalahannya dulu dan bangkit serta berprestasi di bidangnya masing masing


Enjoy the story. Semoga bisa terinspirasi dari kisah kisahnya mereka. Tidak ada yang tidak mungkin jika kalian mau berusaha dan bekerja lebih :)