(Cerita ini hanyalah Cerita Fiksi Belaka, kesamaan nama dan latar cerita merupakan unsur ketidaksengajaan)

Perempuan Tanpa Nama

Langit mendung gelap menyelimuti kota Jogjakarta sore itu. Memberikan pertanda bahwa akan turun hujan sebentar lagi. Beruntungnya bagi aku saat itu sudah berada di stasiun Lempuyangan, bersiap untuk berkelana meninggalkan kota Jogjakarta.

Stasiun Lempuyangan
Sebelumnya perkenalkan, namaku Irfan, seorang mahasiswa semester akhir Universitas Gadjah Mada jurusan Ekonomi. Aku adalah orang asli Jakarta yang sedang berkuliah di Jogjakarta. Hari ini kebetulan aku berencana pergi ke Jakarta, menikmati liburan akhir pekan bersama keluarga, menjauhi segala urusan kuliah dan tentunya menjauhkan skripsiku untuk sementara.

Dan benar saja, tepat setelah aku tiba di stasiun, hujan pun turun dengan derasnya bersama dengan petir menggelegar, "Syukurlah aku sudah di sini," kataku dalam hati. Suasana di stasiun saat itu sangatlah ramai. Mungkin karena hari itu merupakan hari pertama dari weekend, jadi wajarlah kalau stasiun di penuhi oleh banyak orang.

Setelah mengecek tiket ke petugas dan di ijinkan untuk masuk peron stasiun, aku pun bergegas mencari tempat duduk untuk menunggu kedatangan kereta yang mengangkutku sore itu. Ternyata kondisi di peron stasiun juga tidak kalah ramai di banding di luar peron. Kebanyakan dari mereka adalah para penumpang kereta prambanan ekspres tujuan Kutoarjo (Kebetulan kereta Prambanan Ekspres datang 10 menit lagi). Jadi mau tak mau, aku pun duduk lesehan di lantai dekat rel jalur 1.

Sembari menunggu kereta, aku melihat sekitarku. Banyak dari penumpang di stasiun sore itu adalah remaja remaja dan rombongan keluarga. Ya mungkin mereka juga memiliki niat yang sama denganku, menghabiskan akhir pekan ini dengan berkumpul di rumah bersama keluarga.

Pukul 16.00, kereta Prambanan Ekspres tujuan Kutoarjo pun datang. Penumpang pun berbondong bondong menunggu kedatangan kereta tersebut di peron jalur 2. Setelah penumpang naik dan kerta berangkat, sesaat suasana stasiun menjadi lebih sepi di banding tadi. Lumayan sepi.

20 Menit kemudian, tiba tiba muncul sebuah pengumuman bahwa kereta yang aku naiki mengalami keterlambatan 30 Menit. Aku pun hanya bisa menghela nafas. Jika kereta api yang aku tumpangi sore itu terlambat, otomatis aku pun tiba di Jakarta nya akan terlambat juga, atau justru lebih larut di bandingkan jadwal seharusnya. Belum lagi aku sudah berpikiran bahwa perjalanan panjang ini akan membosankan. Sepanjang sejarah aku naik kereta, aku belum pernah mengalami ketidakbosanan. Aku lebih memilih duduk dan diam serta menikmati kebosananku ketimbang harus berbicara dengan penumpang lain didepanku

Kereta Api Ekonomi 1
Singkat cerita, kereta yang akan membawaku ke Jakarta pun datang. "Yap, terlambat setengah jam, berarti sampai di Jakartanya sekitar jam 1 pagi," Gumamku dalam hati. Setelah kereta berhenti, aku pun masuk ke gerbong 4 dan mencari tempat dudukku. Di dalam kereta sudah terisi oleh beberapa penumpang lain. Memang kereta yang aku tumpangi berangkat dari Stasiun Purwosari sehingga beberapa tempat duduk sudah terisi oleh penumpang dari purwosari.

Hingga aku menemukan tempat dudukku dan di situ sudah ada 2 orang, seorang wanita dan pria yang kalau aku prediksi umurnya masih relatif muda atau mungkin bahkan seumuran. Aku terkejut ketika melihat wanita yang duduk di sana, sepintas terlihat seperti temanku, atau mungkin orang yang pernah dekat dengan aku dan lucunya dia pun juga terkejut ketika melihatku, seperti ada sesuatu. Wanita tersebut tidak begitu tinggi dan terlihat cukup menarik dengna kerudung berwarna merahnya.

Dengan sopan aku permisi untuk melewati mereka berdua (kebetulan tempat dudukku di dekat jendela) dan duduk sembari melihat keluar jendela. Hujan masih turun saat itu, meskipun sudah tidak sederas tadi. Dan aku tetaplah menjadi aku yang kaku, yang diam tanpa kata sembari menatap pemandangan di luar kereta.

Hingga berselang beberapa menit kemudian, seorang penumpang di deret bangku kami pun datang. Seorang laki laki yang masih terlihat cukup muda datang dengan wajah ceria dan tampak bahagia. Sekilas aku berpikiran bahwa pasti dia akan menjadi orang yang dengan sok tahuannya bakal berbicara panjang lebar dan mesti membosankan. Jadi aku lebih memilih tetap melihat langit di luar jendela yang sudah kembali cerah.

Kereta pun berjalan meninggalkan Jogjakarta tepat pada pukul 16.50. Dan sesuai dugaanku, pria yang datang terakhir tadi pun memulai pembicaraan dengan pria yang duduk di depannya. Pria tersebut duduk saling berhadapan, dan aku pun duduk berhadapan dengan si wanita dan aku . Sembari aku melihat pemandangan di luar, aku mendengarkan pembicaraan kedua pria tersebut. Entah kenapa pembicaraan mereka sangatlah seru dan tidak seperti pembicaraan pembicaraan satu arah membosankan yang sering aku dengar ketika dalam kendaraan umum.

Sekilas aku memalingkan pandanganku ke mereka berdua, dan ternyata apa yang aku lakukan justru membuat aku di serang pertanyaan dari kedua orang tersebut.
" Kalo masnya turun mana ya?" Tanya masnya yang duduk di serong sebelah kiriku.
" Saya Jatinegara mas, masnya turun Jakarta juga?
" Nggak mas saya turun Bekasi kok" Balasnya dengan sedikit tersenyum.

Dan setelah itu mulailah terjadi pembicaraan diantara kita bertiga, aku dan kedua laki laki itu. Sayangnya wanita yang duduk di depanku masih tampak asik bermain gadgetnya. Sekian lama kita berbicara, akhirnya laki laki yang duduk di samping wanita tersebut mulai membuka pembicaraan dengan mengajak wanita tersebut.

"Oiya kalau mbaknya turun dimana ya?"
" Oh emm, saya turun di Pasar Senen mas. Hehe," Jawab wanita tersebut dengan agak canggung.
" Wah mbaknya grogi kayaknya mas," Tiba tiba aku menceletuk pembicaraan mereka.

Dan kami berempat pun tertawa bersama.

Tak terasa perjalanan kereta ini telah tiba di stasiun Kebumen. Langit pun terlihat semakin redup, menampakkan cahaya senjanya di ufuk barat. Dan di sini, kami berempat pun masih senantiasa saling bercerita satu sama lain. Apapun kami ceritakan. Pengalaman, cerita lucu, cerita horror, politik dan banyak topik pembicaraan yang kita saling cerita di sini.

Di tengah asiknya kami saling bercengkrama satu sama lain, aku pun menyadari sesuatu. Aku sama sekali tidak pernah berbicara langsung kepada wanita yang duduk di depanku. Pun demikian dengannya, tidak pernah berbicara langsung denganku. Meskipun kita sama sama pernah saling menimpali pembicaraan kedua laki laki tersebut, tapi kita sama sekali tidak pernah berbicara secara personal untuk kita berdua.

Pembicaraan kami pun tak terasa terus berlanjut hingga kereta tersebut tiba di stasiun Purwokerto. Waktu saat itu menunjukkan pukul 20.00. Tak terasa kami pun mulai sedikit demi sedikit kehabisan topik pembicaraan. Satu demi satu pun mulai memilih untuk istirahat. Aku pun kembali melihat keluar jendela, menatap langit gelap dan cahaya lampu di luar. Sekilas terlihat pantulan wajah wajah penumpang di dalam kereta, termasuk wanita yang duduk di depanku. Tampak terlihat cantik dengan jilbab berwarna merahnya.

Kereta Api Ekonomi 2
Aku pun memejamkan mata, berusaha beristirahat sejenak. Sialnya aku justru terpikir sebuah pertanyaan besar dalam usahaku untuk tidur saat itu. Siapa sebenarnya wanita yang duduk di depanku? Kenapa aku justru penasaran dengan wanita yang duduk di depanku? Dalam hati aku berkata," Nanti ketika sudah hampir tiba di Jakarta, aku harus bisa tau siapa wanita tersebut." Hingga akhirnya aku pun bisa memejamkan mata dan tertidur pulas saat itu, dengan meninggalkan beberapa pertanyaan tersirat dalam benakku.

Pukul 00.30, aku terbangun dari tidurku. Kereta saat itu lebih sepi di bandingkan sebelumnya. Semua terlihat sedang tertidur sepenglihatanku, termasuk laki laki yang ada di sebelahku dan wanita yang ada ada di depanku. Sekilas aku memandang wanita tersebut, terlihat cantik di kala ia tertidur. Aku pun mengambil air mineral karena tidur lama membuat tenggorokanku terasa kering. Lalu akupun memandang keluar Jendela, berharap aku dapat mengetahui sekarang aku sudah tiba di daerah mana.

"Mas ini sudah sampai mana ya?" Sebuah suara yang tidak asing lagi aku dengar ketika aku sedang mengamati luar jendela.
"Eh mbak, ngg, ini kayaknya baru lewat Cikampek deh," Jawabku dengan setengah grogi. Pada akhirnya kami bisa berbicara langsung meskipun di rundung dengan grogi yang sangat terlihat.
"Oh masih jauh ya berarti?"
"Mungkin satu jam lagi sampai di Jakarta mbak," Kataku dengan sok tahunya sembari melihat jam di tanganku. Dengan segala keberanian akupun berusaha mencoba membukan sebuah pembicaraan. " Mbaknya kuliah di Jakarta?"

Sontak mbaknya tertawa kecil," Nggak mas, saya kuliah di UNS Solo, jurusan Farmasi. Lah masnya darimana?"
"Saya dari Ekonomi UGM mbak," Jawabku dengan menunjukkan mimik yang berusaha biasa saja dan santai
"Masnya semester berapa?"
"Duh mbak kok tanyanya semester, saya sudah tahun terakhir kuliah mbak,"
"Walah mas, jangan pake saya, nanti malah aku terlihat tua. Kan kita seangkatan," Lalu aku terkejut ketika wanita tersebut satu angkatan. Dan setelah aku tahu dia satu angkatan, kami pun berbicara panjang lebar dengan lebih santai. Terkadang kami bisa tertawa bersama diantara cerita cerita kami. Bahkan tak jarang tertawa kami justru bisa membangunkan laki laki yang duduk di sebelah wanita tersebut.

Hingga tak terasa keretapun memperlambat lajunya, pertanda akan masuk di sebuah stasiun.
"Wah kayaknya sudah mau sampai Bekasi nih," kata wanita tersebut di sela sela pembicaraan kita. Aku pun melihat keluar jendela dan ternyata benar, kereta ini telah tiba di Bekasi.

"Mas mbak, saya izin turun duluan ya," Laki laki yang duduk di sampingku ternyata hendak turun di stasiun Bekasi.
"Oiya mas," Jawabku dengan tersenyum. Lalu laki laki tersebut mengajak bersalaman dengan masing masing dari kami.
" Sampai jumpa di lain kesempatan, jika Allah menghendaki," Kata si laki-laki sambil menyalami tanganku dan kemudian di susul menyalami tangan wanita yang duduk di depanku.
"Insha Allah mas," Balas sang wanita. Kemudian laki laki tersebut turun meninggalkan kereta api.

5 Menit kemudian, kereta api berjalan kembali, meninggalkan stasiun Bekasi. Iseng aku melihat keluar jendela, ternyata hujan sedang turun dengan derasnya. Perkiraanku di Jakarta pastilah sedang hujan.

"Oiya saya tak pindah tempat duduk ke gerbong depan ya," Ujar laki laki yang duduk di sampingku sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Oh iya mas," Jawabku pendek. Praktis di kursi itu tinggal ada kita berdua, aku dan si wanita.

"Mas nya uda mau turun ya bentar lagi?" Tanya wanita tersebut tiba tiba, yang sampai saat ini belum aku ketahui siapa namanya.
"Eh iya, paling sekitar 15 menit lagi sampai di stasiun Jatinegara," Balasku sambil aku memainkan gadgetku. Iseng aku mengintip ke arahnya. Tampak sesekali wanita tersebut memperhatikan aku dan kadang aku sesekali memperhatikannya. Ada keinginan untuk sekedar berkenalan, mengenal dirinya dan yang yang paling penting mengetahui namanya. Tapi aku terlalu malu untuk sekedar bertanya,"siapa namanya mbak?"

10 menit setelah kereta berjalan, kita sama sama saling diam, Sesekali aku melihat langit luar, mungkin sekedar berharap kereta ini berjalan lebih lama lagi. Tapi aku sadar, itu sesuatu yang tidak mungkin. Kereta pun tetap melaju dan mungkin sekitar 5 menit lagi aku akan turun di stasiun Jatinegara.

"Mbaknya balik minggu besok ke Solo nya?" Tanya aku dengan harapan bisa mencairkan suasana.
"Oh nggak mas, aku baliknya besok minggu ke Pemalang naik Kereta Tawang Jaya. Mau pulang ke rumah dulu soalnya," Jawab wanita tersebut sambil sedikit tertawa. Berarti aku tidak mungkin bertemu dengannya di perjalanan kembali ke Jogja.

Dan keretapun mulai memperlambat lajunya kembali, pertanda akan masuk stasiun. Aku pun melihat keluar jendela dan memang sesaat lagi kereta akan segera masuk stasiun Jatinegara. Segera aku ambil tas milikku yang berada di atas tempat dudukku.

"Mas nya udah mau turun ya?" Kembali pertanyaan itu terucap dari wanita tersebut.
"iya nih, yah uda mau turun aja aku," Jawabku dengan spontan sambil mempersiapkan barang yang aku bawa.
"Terima kasih ya mas," Sontak aku terkejut mengapa tiba tiba dia mengucapkan terima kasih.
"Buat apa mbak?"
"Ya sudah menghindarkan aku dari kebosanan di kereta. Aku biasanya di kereta lebih senang diam dan baru kali ini merasa bisa rileks bisa berbicara dengan penumpang lain di kereta,"
Aku tersenyum, dan dengan singkat aku balas," Sama brarti kita."

Kereta pun ternyata sudah berhenti di stasiun Jatinegara dan sesaat lagi kereta aku segera berangkat lagi. Aku justru kaget ketika kereta akan segera berangkat lagi.

"duh keretanya udah mau berangkat lagi ya? Aku turun dulu ya," Ucapku dengan terburu buru. Lalu aku mengajak menyalami wanita tersebut dan bersalamanlah kita satu sama lain. Lalu aku segera pergi meninggalkannya karena takut kereta tersebut akan segera kembali berjalan.

"Mas!" Panggil wanita tersebut dari tempat duduknya. Aku yang mendengarnya langsung menoleh kebelakang.
"Semoga kita bisa bertemu lain waktu lagi ya," kata wanita tersebut sambil tersenyum.
"Iya Insha Allah," Balasku sambil tersenyum kepadanya. Ada kesenangan tersendiri saat itu ketika masing masing dari kita sama sama berharap bisa bertemu suatu saat. Meskipun tidak ada yang tahu kapan kita akan bertemu lagi.

Aku pun bergegas turun dari kereta saat itu, kereta ternyata sudah berjalan secara perlahan dan aku pun memilih untuk melompat dari pintu. Untungnya aku tetap masih bisa turun dari kereta saat itu. Dan selang beberapa detik kemudian, kereta pun mulai bergerak lebih cepat.

Stasiun Jatinegara Dini Hari
Aku melihat kereta yang perlahan bergerak meninggalkan stasiun Jatinegara dari pinggir peron. Setelah kereta pergi meninggalkan stasiun, aku melihat sekelilingku. Stasiun sangat sepi saat itu. Maklum, saat ini waktu menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Beberapa penumpang yang turun dari kereta Bengawan pun telah meninggalkan stasiun menuju pintu keluar.

Kemudian aku bergerak menuju pintu keluar stasiun yang ternyata sudah di sambut dengan keramaian tukang ojek dan taksi yang menawarkan jasanya. Dan sesuai dengan dugaanku, saat itu Jakarta sedang di guyur hujan deras. Setelah aku mendapatkan taksi segera aku menuju pulang ke rumahku di daerah Duren Sawit Jakarta Timur.

Sebuah perjalanan di kereta yang menyenangkan telah berlalu. Sebuah perjalanan yang sama sekali jauh dari kata membosankan. Baru pertama kali aku rasakan bisa bercengkrama dengan penumpang lainnya ketika di kereta. Terlebih, aku bisa bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa dan menawan selama perjalanan. Namun sebuah kekecewaan ketika aku sama sekali tidak bisa mengetahui siapa nama wanita tersebut hanya karena ketidakberanianku bertanya ke dia.

Pada akhirnya diapun hanya menjadi seorang Perempuan Tanpa Nama, yang hanya bisa di kagumi tanpa bisa dikenali lebih jauh. Yang hanya bisa di senangi namun kita tidak tahu siapakah dia secara lebih lanjut. Meskipun kecewa, tapi dalam hati aku yakin dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, sama sama ingin berharap bertemu di lain waktu. Namun hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan bertemu lagi.
Mungkin bagi sebagian orang, perubahan bisa di katakan memiliki tiga pandangan yang berbeda. Ada yang berkata bahwa perubahan itu sebagai sesuatu yang harus terjadi, sesuatu yang biasa saja, dan sesuaut yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ketiga pandangan yang sebenarnya tidak salah terhadap memaknai dari sebuah perubahan, karena pasti pandangan tersebut melihat dari 3 sudut pandangnya masing masing.

Perubahan itu pada umumnya adalah perubahan menuju arah yang lebih baik dan ke arah yang lebih positif. Tapi tentu saja, meskipun pelaku perubahan merasakan perubahan itu ke arah yang lebih baik dan lebih positif, tentu saja pasti masih akan ada sebagian dari orang orang yang menganggap kepada si pelaku perubahan negatif, atau mungkin tidak pantas berubah menjadi seperti itu.

Banyak kasus yang terjadi untuk kondisi dimana seorang pelaku perubahan, yang ingin menjadikan suatu kondisi yang lebih baik tapi justru di tentang oleh banyak orang. Kita ambil sebuah contoh sebagai berikut, seorang yang ingin menjadikan diri sendirinya lebih baik dari yang sebelumnya banyak memiliki kekurangan kekurangan yang di rasakan pribadinya, namun justru di tentang dan justru di anggap sesuatu yang aneh dan lelucon oleh teman teman dan lingkungannya.

Sebuah dilema tentunya pasti dirasakan oleh orang tersebut, dimana dia ingin menjadikan diri sendirinya lebih baik untuknya dan untuk lingkungannya namun justru timbul tanggapan tanggapan miring mengenai perubahannya meskipun masih ada segelintir orang yang masih mengapresiasi perubahannya. Sebuah dilema yang pastinya justru menimbulkan sebuah pemikiran apakah perubahan yang di lakukan adalah sesuatu yang benar ataukah sesuatu yang salah.

Lantas harus bagaimana jika seperti itu?

Think it Again, ada baiknya setiap langkah perubahan yang ingin kita ambil di pikir lagi. Perlu juga untuk setiap perubahan yang disengajakan untuk terjadi di kritisi lagi oleh kita dengan membuat beberapa pertanyaan pertanyaan seperti ini

Apakah perubahan itu perlu untuk dilakukan saat ini?

Apakah perubahan itu memberikan manfaat besar untuk saya dan lingkungan sekitar saya?

Apa dampak dari perubahan tersebut untuk saya dan untuk lingkungan sekitar saya?

Jika lingkungan sekitar tidak menghendaki perubahan namun Anda tetap ingin menghendaki, apa dampak terbaik dan terburuk yang akan terjadi? (Dan sebaliknya)

Apakah Anda siap dengan segala konsekuensi yang terjadi jika perubahan itu terjadi pad diri anda?

Dan tentu saja masih banyak pertanyaan pertanyaan lain mungkin yang bisa di gunakan untuk mengkritisi perubahan yang ingin dilakukan.

Satu hal yang perlu di ingat adalah perubahan baik menurut kita belum tentu bisa dianggap baik oleh lingkungan sekitar. Selama perubahan itu menjamin bahwa kedepannya orang orang akan bisa mendapatkan sesuatu yang sama sama menguntungkan meskipun awalnya terasa memberatkan, tetaplah lanjutkan perubahan tersebut.

Perubahan dalam diri sendiri pastilah terjadi karena ada niat tulus dari dalam hati untuk menjadi yang lebih baik. Lingkungan sekitar memang tidak mungkin bisa langsung menerima perubahan itu secara cepat. Selama proses perubahan itu terjadi secara konsisten dan baik baik saja, Insha Allah lingkungan sekitar juga akan bisa menerima perubahan dari dalam diri itu sendiri.

Terakhir, pilihan untuk berubah ada di tangan kita masing masing. Jika kalian takut berubah menjadi diri sendiri karena tekanan dari lingkungan sekitar, maka kalian selamanya akan menjadi pribadi yang itu itu saja. Jika kalian mau berubah demi kebaikan diri kalian sendiri, Insha Allah kalian juga yang akan mendapatkan manfaatnya.
Tak terasa semester ini sudah hampir berlalu selama separuh semester. Wah ngga nyangka ternyata sudah berlalu hampir sekitar 1 bulan aku menempuh kuliah di semester 6 ini. Dan ternyata banyak hal hal yang terjadi selama aku mengarungi semester genap ini.

Mungkin dulu aku pernah berkata bahwa aku ngga akan jadi orang sibuk di semester ini. Ya memang ngga jadi orang sibuk, sibuk dalam hal organisasi. Selebihnya, nyatanya aku juga sibuk juga dengan kegiatan yang ada sangkut pautnya dengan urusan akademisku. Kalau dahulu mungkin aku mengurusi Departemen Akademis KMTETI, sekarang aku mengurusi akademisku pribadi. Kuliah yang ternyata tugasnya ngga ketolongan berlalu lalangnya dan semacamnya, ngegarap urusan yang tak di duga. Ya semester ini ngga ada bedanya dengan semester semseter sebelumnya.

Kondisi yang seperti ini yang secara ngga sadar membuat aku menjadi pribadi yang berbeda dari yang sebelumnya. Dari yang mungkin gampang di temui sekarang jadi susah buat ditemui. Jadi yang biasanya akrab sama banyak kakak angkatan dan adek angkatan, kini aku jadi akrab sama orang orang yang sering tak temuin di Lab SFT aja. Dari yang dulu cukup humoris sekarang jadi terlihat lebih serius. Dari yang dulu sering terlihat ceria ketika bertemu orang orang kini lebih terlihat suntuk dan sayu seperti orang kelelahan. Sebenernya aku menyadari itu, but I can't do anything to save my habbit and get myself back.

Dan hebatnya adalah frekuensiku memegang smartphone ku sekarang tidak sesering yang dulu. Mungkin ada 2 faktor, karena akunya bisa bermedia sosial di laptop dan karena gadgetnya yang ngga bisa di ajak berkompromi. Tak jarang aku sering nggak tau kapan ada sms atau telepon dateng. Kadang aku baru buka sms beberapa jam setelahnya yang itu mungkin pesennya uda basi. Maafkan saya atas hal hal yang seperti ini.

Sedih, mungkin kata yang paling tepat menggambarkan sebenernya apa yang lagi tak pikirkan saat ini. Ketika orang orang yang sudah akrab satu persatu hilang karena ketidakbecusan saya dalam hal berkomunikasi di semester ini (padahal aku anak Telekomunikasi). Ketika aku justru ragu dan terkesan agak aneh ketika ingin memulai sebuah pembicaraan dengan orang orang yang dulunya sudah sangat akrab.Yaa banyak dilematika yang muncul, padahal hanya untuk sekedar memulai komunikasi dengan orang orang yang sudah lama tak berjumpa.

Pertanyaannya adalah sampai kapan aku bakal seperti ini? Entahlah. Aku seperti sedang terjebak dalam sebuah sistem yang memaksaku untuk seperti ini. Mungkin memang bagi sebagian orang, ini terkesan berlebihan. But you don't know how can this happened to me. 

Buat yang membaca ini dan mungkin merasa kesal dengan keadaan aku saat ini, aku meminta maaf jika itu membuat kalian tidak nyaman. Mungkin kalau kalian ada saran buat aku, Private message saja lewat media sosial, jangan lewat sms. Aku cuma ingin jadi pribadi yang seperti dulu lagi.
Generasi Muda Untuk Indonesia Yang Lebih Baik
(Fauzan Akbar - Teknik Elektro UGM 2012)

Miris, Mungkin kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Di saat negara negara lain sudah banyak melakukan perubahan perubahan signifikan untuk memajukan negaranya, kita masih jalan di tempat dan bergelut dengan persoalan dan konflik yang senantiasa melanda negeri tercinta. Kebobrokan di banyak sektor, kemiskinan, kesenjangan status sosial masih menjadi trending topic untuk negara Indonesia sampai saat ini. Apalagi jika kita lihat beberapa peristiwa yang terjadi akhir akhir ini, seolah semakin menampakkan citra negara Indonesia yang bisa di bilang semakin mengkhawatirkan.
Sangat banyak persoalan yang sedang di hadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, persoalan persoalan yang justru membuat Indonesia menjadi bangsa yang lemah, yang kehilangan arah dan tujuan awal dari berdirinya bangsa ini. Contoh dari persoalan polemik yang paling hangat adalah Korupsi. Korupsi adalah salah satu contoh permasalahan nyata yang sedang terjadi saat ini. Data dari Transparancy Internasional Indonesia (TTI) menyebutkan bahwa pada tahun 2012, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia turun peringkat dari 110 menjadi 118 dari 176 negara dengan skor 32, sejajar dengan Republika Dominika, Ekuador, Mesir dan Madagaskar. Sungguh ironi melihat negeri Indonesia tercinta ini, yang memiliki beragam keunikan keunikan yang ada didalamnya, namun memiliki petinggi petinggi yang suka menghambur hamburkan uang negara.
Hukum juga menjadi permasalahan yang cukup mencolok di negeri ini. Penegakan hukum di Indonesia masih terbilang sangat lemah. Palu hukum masih dapat di beli dengan uang dan kekuasaan. Prinsip “Yang kaya yang selamat, yang miskin yang melarat” masih sering terlihat dalam upaya upaya penegakan hukum di Indonesia. Pejabat tinggi penghambur uang rakyat hanya di hukum 2 tahun penjara, sementara maling ayam justru di hukum puluhan tahun penjara. Adilkah? Mungkin hanya bagi para hakim pengambil keputusan itu yang merasa adil.
Berbicara mengenai korupsi dan lembaga penegak hukum, baru baru ini sedang terjadi kisruh antara 2 lembaga penegak hukum di Indonesia, yaitu KPK dan Polri. Kisruh yang justru menguatkan pendapat bahwa hukum di Indonesia masih lemah, masih bisa di beli oleh orang orang tertentu dan masih bisa di atur oleh orang orang yang punya kekuasaan. Kisruh yang memunculkan banyak pertanyaan di masyarakat, bagaimana hukum di Indonesia mau lebih baik kalau antar lembaga penegak hukumnya saja justru saling serang.
Selain topik topik di atas, tentu masih banyak lagi permasalahan permasalahan krusial lainnya yang sedang dialami Indonesia seperti angka kemiskinan yang semakin merangkak naik, permasalahan infrastruktur, Pelayanan fasilitas publik yang tidak kunjung membaik dan masih banyak lagi. Semua masalah ini sebenarnya bermuara ke satu pertanyaan, yaitu dimanakah peran pemimpin atau negarawan yang seharusnya memiliki kepekaan sosial dan mampu membawa perubahan menuju Indonesia ke arah yang lebih baik serta sesuai dengan cita cita para pendiri dahulu.
Pemimpin atau bisa juga disebut negarawan memiliki andil besar terhadap segala hal yang terjadi di bangsa ini. Baik buruknya bangsa ini tidak hanya di tentukan oleh masyarakatnya saja, tapi juga bergantung kepada pimpinan pimpinan dan politisi yang memegang amanah dari rakyat untuk membawa negara Indonesia ke arah yang lebih baik. Sayangnya saat ini masih banyak pimpinan dan politisi yang masih jauh dari yang di harapkan sebagian besar masyarakat Indonesia serta masih jauh dari cita cita dan tujuan negara ini.
Pada saat pesta demokrasi terbesar 5 tahunan di Indonesia yang baru saja berlangsung tahun lalu, sering kita lihat poster, baliho dan bendera para politisi terpampang di seluruh penjuru daerah Nusantara.  Promosi besar besaran yang di ikuti dengan janji janji dari para politisi yang hendak beradu nasib dengan mencari suara rakyat. Sebagian dari mereka berkoar dengan mengatas namakan perwakilan rakyat dan membawa janji janji politik yang bisa menggugah hati rakyat agar bisa memilihnya. Tak jarang para calon politisi tersebut rela menghabiskan uang hingga puluhan, ratusan juta bahkan milliaran untuk biaya kampanye mereka, hanya demi sebuah mendapatkan suara rakyat. Selain itu, banyak juga politisi yang menghalalkan banyak cara demi mendapatkan kekuasaan di tingkat pemerintah.
Politisi yang seperti ini yang justru akan merusak dan semakin menjauhkan Indonesia dari cita cita utamanya. Politisi yang bermental uang seperti ini pada umumnya memiliki jiwa kepemimpinan yang lemah, sehingga tujuan dia mendapatkan kekuasaan adalah demi mendapatkan ketenaran sebagai politisi ternama namun tidak mementingkan visi dan misi nya yang di koar koarkannya dahulu. Janji pun tinggal lah janji semata, hanya di ucapkan untuk sekedar menarik simpati rakyat saja namun realisasinya tidak ada. Pemimpin politis yang seperti ini pada umumnya mengambil kebijakan hanya untuk penyelesaian jangka pendek, reaktif kepada permasalahannya dan kepentingan kelompok tertentu, khususnya partai pengusung atau koalisi pendukung. Kebijakan kebijakan yang di ambil bukan berdasarkan pada kondisi yang ada, bukan pula berdasarkan hasil analisis yang tepat dan akurat, namun lebih didasarkan pada kepentingan pribadi dan golongannya ketimbang kepentingan masyarakat.
Akibatnya, rakyat yang menanggung semua beban dari keputusan keputusan yang tidak bijak tersebut. Ketika rakyat mengharapkan sebuah perubahan nyata menuju Indonesia yang lebih baik dari pimpinan dan politisi yang terpilih, namun yang ada justru rakyat hanya di buat semakin tersiksa dan menderita dengan keputusan keputusan tersebut. Hal seperti ini yang menjadi alasan utama mengapa sebagian besar rakyat Indonesia bersikap sinis dan tidak percaya kepada pemerintahan. Kewibawaan pemerintah turun dimata rakyat. Masyarakat pun memilih caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah ketimbang menuruti kebijakan pemerintah yang di anggap tidak tepat.
Jika hal yang seperti ini terus di pertahankan, lantas mau menjadi apa negara Indonesia di masa yang akan datang. Negara Indonesia tidak akan maju jika pemerintah dan rakyatnya tidak saling bersinergi dan saling bahu membahu.  Indonesia akan tetap senantiasa terbelakang, bobrok dan tertinggal di banding negara negara lainnya. Indonesia butuh orang orang yang bisa merubah keadaan dan kondisinya saat ini. Bisa dikatakan pula Indonesia sedang krisis negarawan dan krisis orang orang yang berjiwa kepimpinan tinggi. Indonesia rindu akan pemimpin yang visioner, berjiwa sosial tinggi dan yang peduli kepada Tanah air.
Hal yang paling di butuhkan saat ini adalah generasi muda penerus bangsa yang siap dan memiliki visi yang kuat untuk membangun Indonesia serta mengembalikan Indonesia sesuai cita citanya. Generasi muda yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi serta peduli dengan keadaan Indonesia saat ini. Seorang negarawan sejati harus bisa menyatu dengan rakyat, mendengar suara rakyat dan ikut tumbuh bersama rakyat, bersedia membantu dan melayani rakyat tanpa berharap untuk memperkaya diri. Jika generasi muda saat ini memiliki sifat sifat demikian, pasti lah akan terbentuk generas generasi penerus yang solid, yang akan membawa Indonesia kemabali pada tujuan awalnya.
Untuk menjadikan generasi muda yang siap merubah Indonesia, tidak mungkin di lakukan dalam waktu semalam suntuk. Masa masa di kampus merupakan saat yang tepat untuk mengasah jiwa negarawan pada generasi muda. Kondisi di kampus yang banyak tekanan dan permasalahan akan menjadi keuntungan sendiri untuk para generasi muda dalam melatih sifat sifat negarawannya. Lewat organisasi dan aktivitas di kampus, mahasiswa di latih kemampuan berpikir dan kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan yang ada. Di sini pula, para mahasiswa ini terbiasa dengan pemikiran yang mengedepankan kepentingan rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat dan berjuang dengan penuh totalitas tanpa pamrih.
Dengan hasil proses pembentukan di kehidupan kampus serta kebiasaan berpikir yang selalu berorientasi kepada kepentingan rakyat di harapkan terbentuklah generasi generasi muda yang memiliki jiwa negarawan sejati dan yang turut ikut aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sebuah negara. Generasi muda yang nantinya akan memegang peran penting dalam penentuan sebuah keputusan untuk negara. Generasi muda yang seperti inilah yang di dambakan Indonesia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Tinggal yang perlu ditekankan adalah kesadaran diri masing masing generasi muda untuk memiliki jiwa nasionalis. Karena faktanya masih banyak generasi muda yang terjebak dengan pola pikir yang salah. Pola pikir yang bersifat apatis dan tidak peduli kepada negara Indonesia. Memang untuk menjadi seorang negarawan muda di butuhkan proses yang panjang dan kemauan yang kuat. Sudah seharusnya generasi muda sebagai orang orang yang mampu mengubah Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik lagi, menuju Indonesia yang sesuai dengan cita cita nya dahulu. Jika bukan generasi muda, lantas harus siapa lagi yang memiliki jiwa muda dan semangat patriotisme untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju. Masa depan Indonesia ada di tangan pemuda. Jika pemuda tidak berinisiatif untuk bergerak, maka Indonesia akan tetap menjadi negara yang miris yang memiliki kebobrokan yang menjadi jadi.
Akhirnya setelah sekian lama diam dan tidak pernah bersentuhan dengan blog yang satu ini, malam ini saya kembali ke blog saya yang udah hampir berumur 6 Tahun. Waw tak terasa sudah lama sekali berkutat dengan blog ini. Blog yang (tak sengaja) tercipta karena paksaan untuk membuat blog pada saat matapelajaran TIK di SMP dahulu. Aku bahkan tak berpikir bahkan bisa mempunyai blog, menulis di sini, bercerita dan berbagi pengalaman pengalamanku. Aku pun juga tak menyangka sampai saat ini aku masih bisa senantiasa menulis, konstan untuk mengupdate tulisan tulisanku, ya meskipun sebulan sekali atau bahkan 2 bulan sekali, tapi setidaknya aku masih memiliki rasa senang jika bertemu dengan blog ini.

Lantas aku iseng membuka tulisan tulisan lamaku, tulisan ketika zamannya aku SMP dan SMA. Satu hal yang bisa membuatku geleng geleng kepala, ternyata aku pernah mengalami masa masa sealay itu. Masa masa dimana kamu senang menyingkat dan mengganti kata kata, Begitu menjadi gicuh, terima kasih menjadi thxx, dan huruf yang kecil bisa menjadi besar dengan sendirinya. Ya itu masa masa lalu, masa masa suram ketika aku senang menulis tetapi belum bisa menyusun struktur kata kata yang baik dan benar. 

Seiring berjalannya waktu pun apa yang di tulis menjadi lebih sedikit berkualitas. Lebih sedikit enak untuk di baca dan lebih sedikit enak untuk di lihat dan tidak menimbulkan opini buruk. Sedikit demi sedikit, tulisan itu pun berubah dari yang awalnya berisi celotehan yang tidak tersusun dengan rapi menjadi mulai rapi sedikit demi sedikit. Yang tadinya cuma nulis 4 kata di enter dan sekarang bisa nulis berparagraf. Awalnya terasa berat namun lama lama jadi terbiasa untuk menulis dengan rapi.

Dari yang awalnya segala macam curhatan keluar semua di blog dan kini berusaha untuk menyaring dan sedikit mengurangi curhatan. Sahabatku pernah berkata, "Galau di media sosial ngga bikin kamu keren" Perkataan yang sungguh membuatku berpikir, lalu berkaca diri. Memang banyak julukan julukan yang kurang mengenakan yang melekat di diri. Sayangnya bukan julukan yang bagus. Tukang galau, Alay, dan semacamnya pernah menyandang di aku. Bahkan ketika aku lagi nggak galau pun tetap di bilang galau, di bilang bercanda pun di bilang galau. Lalu aku berkesimpulan, apa yang kamu perbuat di hadapan orang lain, itulah yang akan kamu dapatkan. Kamu senengnya update status galau, tiap hari tiap waktu, ya maka wajar lah ketika orang memanggil kamu "The Galauers", Meskipun kamu bilang nggak. Percayalah, terkadang pencitraan itu perlu.

Oke dan tak terasa sekarang aku bisa menulis dengan lebih menyenangkan. Bisa mengekspresikan dengan menjauhkan unsur unsur alay itu. Atau dengan kata lain sudah menemukan kenikmatan sendiri dalam menulis. Harapanku aku bisa kembali menulis lagi dan berbagi cerita cerita yang semoga bisa membuat yang baca menikmati setiap kata kata yang aku tulis. 

Sekian postingan pembuka kali ini. Salam semangat! :)